Flying Doctor Indonesia, Ikhtiar Irwan Halim Membuka Akses Evakuasi Medis
- 05 Okt 2026 08:53 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Alumni SMKK 1 BPK PENABUR Jakarta, Irwan Halim, merintis usaha evakuasi medis Flying Doctor Indonesia bersama istrinya, dr. Vika Cokronegoro, Spesialis Kedokteran Penerbangan, sejak 2020.
- Irwan menangani operasional dan pengembangan bisnis, sementara istrinya berfokus pada aspek medis dalam layanan evakuasi pasien.
- Flying Doctor Indonesia tidak hanya memberikan layanan evakuasi medis, tetapi juga membantu pasien mendapatkan rekomendasi rumah sakit dan dokter spesialis serta mengurus penjaminan asuransi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Membawa pasien dalam kondisi tertentu dari satu daerah ke daerah lain membutuhkan penanganan yang tidak sederhana. Kondisi medis, kesiapan transportasi, pendampingan tenaga kesehatan, hingga koordinasi dengan rumah sakit menjadi bagian penting dalam proses evakuasi medis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Irwan Halim yang sejak 2020 bersama istrinya, dr. Vika Cokronegoro, Spesialis Kedokteran Penerbangan. Berdua mereka merintis layanan evakuasi medis Flying Doctor Indonesia.
Irwan menangani operasional dan pengembangan layanan, sedangkan istrinya berfokus pada aspek medis. Termasuk, menilai kondisi pasien dan menentukan kebutuhan medis dalam proses evakuasi.
"Profesi yang saya jalani saat ini adalah sebagai pengusaha evakuasi medis Flying Doctor Indonesia bersama istri saya. Usaha ini saya rintis dari nol, dan Puji Tuhan sampai saat ini perusahaan kami membuahkan hasil yang baik," kata Irwan dalam keterangannya, Senin, 5 Oktober 2026.
Menangani Evakuasi Antarpulau hingga Mancanegara
Flying Doctor Indonesia membantu pasien yang membutuhkan proses evakuasi medis. Termasuk, mereka yang menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan atau membutuhkan penanganan di rumah sakit tertentu.
Layanan yang diberikan tidak hanya berupa pengaturan perjalanan pasien. Irwan dan tim juga membantu memberikan rekomendasi rumah sakit dan dokter spesialis, pengurusan penjaminan asuransi, hingga menyiapkan kebutuhan pendampingan medis selama perjalanan.
"Kami banyak membantu pasien yang kadang bingung dengan kondisi sakitnya. Salah satunya dengan memberikan rekomendasi rumah sakit, dokter spesialis, pengurusan penjaminan asuransi, sampai kepada evakuasi medis," ujar Irwan menuturkan.
Dalam perjalanannya, Flying Doctor Indonesia telah menangani evakuasi domestik antarpulau di Indonesia serta evakuasi dari Indonesia ke sejumlah negara. Di antaranya, Singapura, Malaysia, Thailand, India, China, Korea Selatan, Italia, dan Amerika Serikat.
Setiap evakuasi membutuhkan persiapan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah penerbangan komersial dengan fasilitas stretcher, apabila kondisi pasien memungkinkan.

Evakuasi Pasien Papua di Tengah Pandemi
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Irwan terjadi saat pandemi Covid-19. Ketika itu, seorang anak asal Pegunungan Sentani, Papua, sedang menempuh pendidikan beasiswa di Yogyakarta. Pasien tersebut menderita tuberkulosis tulang belakang hingga tidak dapat berjalan dan hanya bisa berbaring.
Guru yang mendampingi pasien kemudian menghubungi istri Irwan melalui pesan langsung di Instagram. Dokumen medis pasien pun dikirimkan untuk dinilai.
Setelah mempelajari kondisi medisnya, dr. Vika menilai pasien masih dapat dievakuasi menggunakan pesawat komersial dengan fasilitas stretcher. Pilihan tersebut menjadi alternatif karena sebelumnya pasien disarankan pulang menggunakan pesawat sewaan dengan biaya yang sangat besar.
Namun, persoalan berikutnya adalah biaya evakuasi. Guru tersebut mengatakan bahwa tidak ada dana. Akhirnya, pihak Flying Doctor Indonesia membantu lewat fund raising untuk bisa memulangkan pasien ke kampung halamannya.
Irwan dan istrinya kemudian turut menggalang dana dari para dermawan. Setelah dana terkumpul, mereka mengurus berbagai kebutuhan evakuasi, mulai dari pembelian tiket pesawat hingga pendampingan perawat. Pasien akhirnya berhasil dievakuasi dan tiba di Pegunungan Sentani, Papua.
Sekitar 1,5 tahun kemudian, kabar baik diterima Irwan dan istrinya. Pada bulan Desember saat Natal, mereka mendapat kabar bahwa kondisi pasien telah membaik dan sudah dapat berjalan kembali. "Puji Tuhan, kami sangat mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikan mukjizat untuk pasien ini," ucap Irwan penuh haru.
Membuka Akses Evakuasi Medis
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Irwan melihat evakuasi medis bukan hanya sebagai layanan transportasi pasien. Menurutnya, evakuasi merupakan bagian dari rangkaian pelayanan kesehatan yang harus dipersiapkan sesuai kebutuhan dan kondisi pasien.
Ke depan, Irwan bersama istrinya berharap dapat memperluas akses evakuasi medis bagi masyarakat di Indonesia. Termasuk, menghadirkan layanan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Ia membayangkan layanan tersebut dapat menjangkau masyarakat dari Sabang hingga Merauke, seperti konsep Royal Flying Doctor Service di Australia. "Kami hanya terus berdoa dan melakukan apa yang menjadi bagian kami saat ini," ucapnya.
Berangkat dari Nilai Pelayanan
Komitmen Irwan terhadap pelayanan juga tidak terlepas dari pendidikan yang diperolehnya sebagai alumni SMKK 1 BPK PENABUR Jakarta. Ia mengaku masih menghidupi motto Iman, Ilmu, Pelayanan yang ditanamkan selama bersekolah, terutama nilai komitmen, integritas, dan tanggung jawab.
"Kami selalu menerapkan ilmu yang telah ditanamkan sewaktu saya menimba ilmu di PENABUR, yaitu komitmen, integritas, dan tanggung jawab. Totalitas kami dalam melayani pasien adalah bagian dari penerapan motto ‘Pelayanan’," ujarnya menegaskan.
Semasa sekolah, Irwan aktif mewakili sekolah dalam olahraga basket dan tenis meja. Kini, nilai yang diperolehnya tersebut ia terapkan dalam profesi yang mempertemukannya dengan pasien dari berbagai daerah dan kondisi.
Kepada siswa BPK PENABUR Jakarta, Irwan berpesan agar terus mengejar cita-cita dan tidak mudah menyerah. "Jangan pernah berhenti mencoba dan terus lakukan yang terbaik," ujarnya berpesan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....