IDAI Peringatkan Bahaya Nyata Penyakit Mematikan akibat Anak Tidak Divaksin
- 23 Agt 2026 07:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Risiko Penyakit Ganas: IDAI mengingatkan bahwa ancaman kecacatan permanen hingga kematian akibat penyakit berbahaya jauh lebih mengerikan dibanding efek samping vaksin.
- Klarifikasi Isu KIPI: Kejadian ikutan pascaimunisasi tidak selalu disebabkan oleh vaksin, dan Komnas KIPI selalu menyelidiki hubungan sebab akibatnya secara ilmiah.
- Fatwa Hukum Wajib: MUI menyatakan program imunisasi hukumnya wajib demi melindungi anak dari kematian, terutama saat belum ditemukan alternatif vaksin halal.
RRI.CO.ID, Jakarta - Orang tua diimbau agar lebih jeli dan rasional dalam memandang risiko kesehatan, serta tidak mudah termakan hoaks yang mendiskreditkan program imunisasi anak. Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah, menegaskan bahwa dampak buruk dari penyakit ganas jauh lebih mengerikan dibandingkan efek samping ringan pascaimunisasi.
Dr. Piprim saat menjadi narasumber Pro3 Siniar yang mengupas tuntas urgensi vaksinasi bagi tumbuh kembang anak, mengingatkan para orang tua agar tidak keliru memposisikan rasa takut terhadap efek samping vaksin ketimbang ancaman nyata penyakit berbahaya. "Jangan sampai dia takut kepada efek samping yang sebetulnya ringan tapi enggak takut dengan penyakitnya," ujar Dr. Piprim memperingatkan para orang tua.
Ia membeberkan contoh nyata seperti penyakit difteri atau pertusis yang dapat menyebabkan anak mengalami batuk hebat hingga pecahnya pembuluh darah di mata. Oleh karena itu, vaksinasi hadir sebagai perisai medis paling efektif untuk melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman kecacatan permanen hingga kematian.
"Ibu ini kan vaksin ini mencegah difteri, difteri ini kayak gini loh Bu sakitnya, Ibu tega enggak anaknya kena kayak gini," tambahnya saat memberikan ilustrasi edukatif kepada orang tua yang sempat ragu.
Lebih lanjut, Dr. Piprim menjelaskan bahwa vaksin bekerja dengan cara melatih sistem kekebalan tubuh anak secara spesifik tanpa harus membuat mereka terserang penyakit sungguhan. Sistem pertahanan tubuh anak diibaratkan seperti tentara yang telah dibekali informasi intelijen akurat sebelum menghadapi musuh yang sebenarnya di lapangan.
Meski demikian, tidak sedikit orang tua yang masih merasa cemas akibat termakan informasi miring atau berita bohong yang berseliweran di media sosial tanpa uji validitas. Isu-isu miring terkait kandungan vaksin atau mitos efek samping berbahaya terbukti telah dipatahkan oleh berbagai investigasi ilmiah resmi.
Terkait isu Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) yang kerap memicu kepanikan massal, Dr. Piprim meluruskan bahwa tidak semua kejadian setelah vaksin murni disebabkan oleh vaksin itu sendiri. Komnas dan Komda KIPI selalu melakukan investigasi mendalam untuk memastikan ada atau tidaknya hubungan kausalitas antara gejala yang timbul dengan vaksinasi.
Dari aspek keagamaan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan telah mengeluarkan fatwa resmi yang menyatakan bahwa program imunisasi hukumnya wajib ketika suatu penyakit dapat mendatangkan kematian. Kondisi darurat ini mewajibkan penggunaan vaksin yang tersedia demi melindungi anak-anak dari ancaman wabah mematikan di masyarakat.
Bagi para orang tua yang telanjur melewatkan jadwal imunisasi buah hati mereka, IDAI memastikan bahwa fasilitas kesehatan tetap membuka layanan kejar tayang atau catch-up immunization. Kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan guna mempertahankan kekebalan komunitas (herd immunity) demi mewujudkan masa depan anak yang sehat.
Saksikan perbincangan selengkapnya dan ulasan mendalam mengenai pentingnya vaksinasi anak melalui RRI PRO3 Official YouTube.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....