Dari Tikus ke Manusia, Begini Cara Leptospirosis Menyebar

  • 12 Agt 2026 14:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Air banjir dapat membawa bakteri Leptospira yang menyebabkan leptospirosis dan mengancam kematian jika tidak ditangani dengan tepat.
  • Gejala leptospirosis mirip dengan flu biasa sehingga sering terlewatkan, namun penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang serius dan fatal.
  • Bakteri Leptospira masuk ke tubuh manusia melalui mata, hidung, mulut, dan luka pada kulit setelah kontak langsung dengan air yang tercemar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Air banjir tak hanya terlihat kotor, tapi juga dapat membawa bakteri berbahaya penyebab leptospirosis yang dapat mengancam kematian. Penyakit ini perlu diwaspadai karena gejalanya kerap menyerupai flu, tetapi dapat berkembang menjadi kondisi serius.

Melansir dari World Health Organization, leptospirosis merupakan penyakit akibat infeksi bakteri 'Leptospira' yang dapat menyerang manusia maupun hewan. Bakteri tersebut umumnya masuk melalui mata, hidung, mulut, dan luka pada kulit setelah kontak dengan air tercemar.

Leptospirosis ditemukan di berbagai wilayah dunia, terutama daerah tropis dan subtropis dengan curah hujan tinggi. Kondisi lingkungan tersebut meningkatkan risiko munculnya genangan serta air yang tercemar urine hewan pembawa bakteri.

Di Indonesia, risiko leptospirosis semakin berkaitan dengan banjir, genangan air, sanitasi buruk, serta lingkungan yang memungkinkan tikus berkembang. Pekerja yang berkegiatan di sawah, membersihkan sampah, atau bekerja tanpa perlindungan juga memiliki risiko tinggi.

Penularan terutama terjadi ketika manusia bersentuhan dengan air, tanah, atau lumpur yang telah terkontaminasi urine hewan terinfeksi. Bakteri kemudian dapat masuk melalui luka kulit maupun bagian tubuh tertentu yang bersentuhan dengan lingkungan tercemar.

Tikus menjadi salah satu hewan yang berperan dalam penyebaran leptospirosis karena sering ditemukan saat banjir. Melansir dari Alodokter, bakteri tersebut dapat keluar bersama urine tikus dan mencemari air maupun tanah.

Gejala leptospirosis pada umumnya muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah seseorang terpapar bakteri. Gejala awalnya mirip dengan flu, yaitu demam tinggi, menggigil, sakit kepala, diare, mata merah, dan nyeri otot.

Nyeri otot akibat leptospirosis sering terasa pada bagian betis dan punggung bawah. Karena keluhannya menyerupai penyakit lain seperti flu atau demam berdarah, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Pada sebagian penderita, infeksi dapat berkembang menjadi penyakit Weil yang merupakan bentuk leptospirosis lebih berat. Kondisi tersebut dapat ditandai penyakit kuning, sulit buang air kecil, pembengkakan, sesak napas, nyeri dada, serta perdarahan.

Jika infeksi sudah menyerang organ, pasien mungkin membutuhkan perawatan rumah sakit dengan pemantauan kondisi secara lebih intensif. Penanganannya dapat mencakup pemberian antibiotik melalui infus, cairan, pemantauan jantung, bantuan pernapasan, transfusi, atau cuci darah.

Komplikasi leptospirosis yang berat dapat meliputi gagal ginjal akut, gagal hati, perdarahan, gagal napas, sepsis, hingga gangguan jantung. Karena itu, gejala setelah paparan air banjir atau lingkungan tercemar sebaiknya tidak dianggap sebagai demam biasa.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari genangan atau air yang berpotensi tercemar, terutama ketika banjir. Perlindungan seperti sepatu bot dan sarung tangan juga dapat membantu mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh.

Menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi keberadaan tikus juga penting untuk menekan risiko paparan bakteri penyebab leptospirosis. Selain itu, masyarakat dianjurkan menggunakan air bersih, mencuci tangan, dan menutup luka yang terbuka. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....