Menkes Budi: Satu Sehat Integrasikan Data Kesehatan dan Kependudukan

  • 11 Agt 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Platform Satu Sehat dikembangkan dari aplikasi PeduliLindungi yang sebelumnya digunakan untuk mendata kesehatan masyarakat selama pandemi COVID-19.
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan urgensi digitalisasi kesehatan dalam konferensi pers di Puskesmas Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
  • Pemerintah memperkuat digitalisasi data kesehatan melalui platform Satu Sehat sebagai langkah strategis untuk meningkatkan manajemen data kesehatan nasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah terus memperkuat digitalisasi data kesehatan melalui platform Satu Sehat. Menkes Budi mengatakan Satu Sehat dikembangkan dari PeduliLindungi untuk mendata kesehatan masyarakat selama pandemi COVID-19.

“Pertama kali itu dipakai waktu zamannya Covid. Karena beliau benar-benar minta, ini gimana sih, Bud, datanya yang benar-benar paling mana? Akhirnya kita bikin aplikasi namanya PeduliLindungi,” kata Budi Gunadi saat memberikan konferensi pers di Puskesmas Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selatan, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Budi, data PeduliLindungi berkembang menjadi Satu Sehat untuk mengintegrasikan berbagai data kesehatan masyarakat secara digital. Ia mengatakan seluruh data vaksinasi kini telah terdigitalisasi dan terintegrasi dalam platform Satu Sehat.

“Data ini kemudian berubah jadi nama Satu Sehat, mengikuti nama yang Pak Luhut bikin, Satu Indonesia. Agar database-nya jadi satu dan sekarang semua data vaksinasi sudah didigitalisasi,” ujar Budi.

Budi mengatakan digitalisasi perizinan tenaga medis dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian PANRB. Digitalisasi mencakup STR dan SIP dokter untuk mempermudah proses administrasi secara elektronik.

“Tahap berikutnya, kita kerja sama dengan MenPANRB untuk mendigitalisasi seluruh perizinan yang namanya STR dan SIP dokter,” ucap Menkes. Budi menambahkan Kementerian Kesehatan kini bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri untuk mengintegrasikan data Satu Sehat dengan data kependudukan.

“Nah, kali ini kita juga bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri, dengan Pak Tito. Khususnya untuk mengintegrasikan data Satu Sehat dengan datanya,” ujar Budi.

Menurut Budi, perbedaan pencatatan selama ini terjadi antara data imunisasi, kelahiran ibu dan anak, hingga data kependudukan. Budi berharap integrasi data menghasilkan basis kelahiran akurat untuk mendukung perencanaan program kesehatan ibu dan anak secara tepat.

“Karena dari dulu kita selalu kesulitan menghitung bayi yang lahir itu yang benar berapa. Jadi antara tim imunisasi sama tim kelahiran ibu dan anak, datanya beda-beda,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....