Minat Perawatan Estetika Dongkrak Investasi Alat Premium di Bali

  • 30 Jun 2026 01:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Meningkatnya minat masyarakat terhadap perawatan estetika mendorong pelaku usaha berani berinvestasi pada teknologi premium.
  • Bali juga menjadi tujuan masyarakat mancanegara yang umumnya telah memiliki pengalaman menjalani perawatan estetika di negara asalnya.
  • Tingginya minat terhadap teknologi estetika juga tercermin dari penerimaan pasar di kota lain.

RRI.CO.ID, Denpasar - Meningkatnya minat masyarakat terhadap perawatan estetika mendorong pelaku usaha berani berinvestasi pada teknologi premium. Bali dinilai menjadi salah satu pasar yang menjanjikan, tidak hanya karena permintaan dari masyarakat lokal, tetapi juga didukung besarnya potensi wisata medis dan wisata kebugaran.

Vice President idsMED Andy Rahardja mengatakan, tren pasar estetika di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Sebelum membawa teknologi baru ke Indonesia, perusahaan terlebih dahulu melakukan riset terhadap perkembangan industri.

"Hasil riset kami menunjukkan pasar estetika tumbuh sekitar 15 persen per tahun. Pertumbuhan terbesar terjadi pada segmen skin tightening. Itu sebabnya kami melihat investasi di teknologi ini memiliki prospek yang baik," ujarnya di Denpasar.

Menurut Andy, Bali memiliki karakteristik pasar yang berbeda dibandingkan daerah lain. Selain melayani pasien domestik, Bali juga menjadi tujuan masyarakat mancanegara yang umumnya telah memiliki pengalaman menjalani perawatan estetika di negara asalnya.

“Mereka memiliki standar yang tinggi. Tidak hanya menginginkan hasil perawatan yang baik, tetapi juga mengutamakan kenyamanan, minim masa pemulihan, dan teknologi yang didukung bukti klinis," katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting sebelum menghadirkan teknologi premium ke Bali, yaitu Xerf. Apalagi, nilai investasi untuk satu unit alat Xerf mendekati Rp2 miliar.

"Bali memiliki daya beli yang baik. Selain itu, pasien asing juga menjadi pasar yang potensial," ucap.

Andy menilai arah kebijakan pemerintah yang mendorong pengembangan kawasan ekonomi berbasis medical tourism dan wellness tourism turut membuka peluang pertumbuhan industri estetika di Pulau Dewata. Menurutnya, jika layanan dan teknologi terus berkembang, masyarakat tidak perlu lagi melakukan perawatan ke luar negeri.

"Harapannya, masyarakat bisa mendapatkan layanan yang setara tanpa harus pergi ke Korea atau Thailand. Sambil berlibur di Bali, mereka juga dapat melakukan perawatan," kata dia.

Dari sisi pasar, Head of Aesthetics idsMED Indonesia, Marisa Theresia, mengatakan tingginya minat terhadap teknologi estetika juga tercermin dari penerimaan pasar di kota lain. Salah satu klinik pengguna pertama teknologi Xerf di Surabaya, telah melayani sekitar 500 tindakan perawatan dalam waktu tiga bulan sejak mulai beroperasi.

"Capaian itu menunjukkan bahwa permintaan terhadap perawatan skin tightening memang sedang tumbuh," ujarnya.

Sementara itu, Head Doctor Elea Clinic Bali, dr. Jesslyn Amelia, Sp.DVE, mengatakan tren anti-aging kini semakin berkembang seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penampilan. Menurutnya, pasien saat ini tidak hanya menginginkan hasil yang optimal, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan selama menjalani perawatan.

"Mereka mencari perawatan tanpa jarum, minim downtime, nyaman, dan tidak menyebabkan hilangnya lemak wajah. Itu yang sekarang banyak dicari pasien," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....