RSJPD Harapan Kita Dorong Skrining Dini Penyakit Jantung

  • 06 Mei 2026 12:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta menekankan deteksi dini sebagai langkah utama mencegah gagal jantung berkembang menjadi kondisi berat
  • Dokter Spesialis Jantung RSJPD Harapan Kita, Prof Bambang Budi Siswanto menilai deteksi sejak awal sangat penting untuk menekan risiko rawat berulang, komplikasi serius, dan tingginya biaya pengobatan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta menekankan deteksi dini sebagai langkah utama mencegah gagal jantung berkembang menjadi kondisi berat. Deteksi sejak awal dinilai penting untuk menekan risiko rawat berulang, komplikasi serius, dan tingginya biaya pengobatan.

“Pencegahannya kita mencari deteksi dini sebelum parah. Kebanyakan pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat, sesaknya makin parah, bahkan bolak-balik rawat inap,” kata Dokter Spesialis Jantung RSJPD Harapan Kita, Prof Bambang Budi Siswanto saat diwawancarai awak media dalam Seminar Awam, Kampanye Kesehatan dan Penapisan dini kesehatan Jantung di Jakarta Barat, Rabu, 6 Mei 2026.

Prof Bambang menyebut tiga faktor risiko utama gagal jantung, dengan hipertensi menjadi ancaman paling sering terabaikan oleh masyarakat luas. Hipertensi kerap disebut silent killer karena nyaris tanpa gejala, namun memicu kerusakan organ serius dalam jangka panjang sekaligus.

“Hipertensi itu penyakit tanpa gejala. Satu-satunya cara mengetahui ya dengan mengukur tekanan darah. Kalau tidak diukur, orang tidak tahu dirinya hipertensi sampai akhirnya memicu stroke, gagal ginjal, atau kerusakan pembuluh darah,” ucap Prof Bambang.

Ia menilai kesadaran masyarakat memeriksa tekanan darah rutin masih rendah, padahal hipertensi mengintai tanpa gejala serius setiap hari. Hipertensi menjadi pintu masuk berbagai penyakit katastropik yang membebani pasien serta kualitas hidup keluarganya secara signifikan dan panjang.

“Stroke itu belum tentu langsung meninggal, tetapi keluarga ikut menderita karena pasien harus dirawat terus-menerus di rumah. Biayanya besar, tenaga terkuras, dan kualitas hidup seluruh keluarga ikut terdampak,” ucapnya.

Selain itu, Bambang menekankan perubahan pola makan sehat sebagai langkah penting menekan risiko hipertensi sejak dini. Ia juga mengingatkan masyarakat membatasi konsumsi garam tinggi natrium karena berpotensi memicu tekanan darah meningkat signifikan.

"Yang paling penting adalah diet rendah garam, kita terbiasa makan asin, padahal natrium tinggi bisa memicu tekanan darah naik. Karena itu kami mendorong penggunaan pengganti garam yang lebih sehat, seperti garam berbahan rumput laut,” ujar Prof Bambang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....