Nyeri Lutut Sering Diabaikan Perempuan, Ini Resiko yang Perlu Diwaspadai

  • 25 Apr 2026 07:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nyeri lutut masih sering dianggap keluhan ringan oleh banyak perempuan.
  • Nyeri lutut dapat menjadi indikasi awal gangguan muskuloskeletal yang lebih serius.
  • Gangguan pada tulang dan sendi yang dapat berkembang secara bertahap sejak usia muda.

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah meningkatnya gaya hidup aktif, banyak perempuan menjalani berbagai peran sekaligus. Sebagai profesional, ibu, maupun individu yang aktif secara fisik.

Namun, di balik itu terdapat risiko kesehatan yang sering tidak disadari, yaitu gangguan pada tulang dan sendi yang dapat berkembang secara bertahap sejak usia muda.

Keluhan seperti nyeri lutut saat naik tangga, pegal berkepanjangan, atau

ketidaknyamanan saat berolahraga kerap dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, secara klinis, gejala tersebut dapat menjadi indikasi awal gangguan muskuloskeletal yang memerlukan perhatian medis lebih lanjut.

Perempuan diketahui memiliki risiko lebih tinggi terhadap beberapa kondisi tertentu. Seperti cedera ligamen lutut dan osteoporosis.

Hal ini berkaitan dengan faktor hormonal, khususnya peran estrogen dalam memengaruhi kekuatan ligamen dan kepadatan tulang. Serta faktor anatomi dan biomekanik, termasuk perbedaan struktur panggul dan pola gerakan tubuh.

"Secara medis, perempuan memiliki risiko lebih tinggi terhadap beberapa gangguan muskuloskeletal tertentu, seperti cedera ligamen lutut dan osteoporosis. Hal ini

dipengaruhi oleh kombinasi faktor hormonal, seperti peran estrogen terhadap kekuatan ligamen dan kepadatan tulang," kata dr. I Made Yudi Mahardika, Sp.OT, Dokter Spesialis Ortopaedi dan Traumatologi Siloam Hospitals Mampang, pada acara Sixnergy di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.

Selain itu, faktor anatomi dan biomekanik, termasuk perbedaan struktur panggul dan pola gerakan tubuh, turut mempengaruhi risiko cedera lutut pada perempuan.

Menurut dr. Made Yudi, keluhan seperti nyeri lutut tidak boleh dianggap sebagai kelelahan biasa dan perlu dievaluasi

sejak dini. Sebab, keterlambatan dalam mengenali dan menangani gejala awal dapat berujung pada kondisi yang lebih kompleks, termasuk penurunan fungsi sendi hingga kebutuhan intervensi medis yang lebih lanjut.

Oleh karena itu, peningkatan kesadaran

dan deteksi dini menjadi langkah penting. Khususnya, dalam menjaga kualitas hidup perempuan dalam jangka panjang.

Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan dr. Uli Asri Sihotang menjelaskan, Sixnergy

merupakan bagian dari upaya Siloam Hospitals Mampang meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

"Kami menghadirkan kegiatan Sixnergy ini melalui pendekatan edukasi yang lebih interaktif melalui booth kesehatan yang terbuka bagi masyarakat. Inisiatif ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara informasi medis dan pemahaman publik, dengan cara yang lebih komunikatif dan mudah diakses," ujarnya.

Dalam kegiatan ini, pengunjung tidak hanya mendapatkan informasi seputar kesehatan tulang dan sendi, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dan games edukatif yang dikemas secara menarik. Melalui Sixnergy, masyarakat berkesempatan memperoleh voucher kesehatan sekaligus memahami pentingnya pencegahan dan penanganan dini gangguan muskuloskeletal.

Pendekatan ini mencerminkan komitmen Siloam Hospitals Mampang dalam menghadirkan layanan kesehatan yang tidak hanya kuratif, tetapi juga promotif dan preventif, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....