BPOM Ungkap Modus Licik Produsen Gas Tertawa Ilegal
- 09 Apr 2026 20:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPOM ungkap produsen yang melanggar cenderung menggunakan trik untuk mengelabui aparat dalam peredaran gas tertawa.
- Gas N2O pada Baby Whip bukan termasuk bahan tambahan pangan (BTP).
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Bareskrim Polri membongkar praktik peredaran Dinitrogen Monoksida (N2O) atau "gas tertawa" ilegal yang dikemas dalam tabung bermerek Baby Whip. Produk ini ditemukan marak diperjualbelikan secara bebas, terutama di platform e-commerce, dengan menyasar kalangan anak muda untuk tujuan disalahgunakan.
Dalam konferensi pers di kantor BPOM, Kamis, 9 April 2026, Kepala BPOM, Taruna Ikrar menunjukkan bagaimana produsen menggunakan label yang kontradiktif untuk mengelabui aparat. "Paling lucu di sini, bahwa ini tertulis food dietary, untuk makanan," kata Taruna.

Padahal, merujuk pada Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 yang dikeluarkan BPOM, gas N2O seperti yang terkandung dalam Baby Whip tidak termasuk bahan tambahan pangan (BTP). Adapun ketentuan penggunaan gas N2O untuk pangan, tetapi sifatnya hanya sebagai propelan, seperti yang dipakai untuk membantu pembentukan busa whipped cream.
"Ada (pula) di sini (tulisan) 'do not inhale', artinya tidak bisa dihisap, tapi kenyataannya di dalamnya ada petunjuk cara menghirup. Ini kan betul-betul ilegal," katanya, sambil menunjukkan kemasan Baby Whip.

Menindaklanjuti hal tersebut, Taruna menyampaikan bahwa perkara ini sedang diproses secara hukum atas dugaan pelanggaran produksi atau peredaran sediaan farmasi yang tidak memenuhi ketentuan standar dan mutu. Pelaku atau produsen yang melanggar dapat terancam pidana, penjara paling lama 12 tahun dan atau denda paling banyak 5 miliar rupiah.
Ia Menegaskan, apapun motifnya, baik untuk keuntungan atau yang lain, peredaran tersebut tetap membahayakan. Masyarakat khususnya orang tua diimbau untuk memastikan bahwa produk gas tertawa ini tidak sampai pada anak dan digunakan secara tidak bertanggung jawab.
"Seperti tadi dibilang, kebanyakan (produk ini) menyasar ke anak muda. Kita tidak mau lagi ada kehilangan jiwa, apalagi kehilangan generasi masa depan (dampak produk berbahaya)," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....