Wamenkes: Diabetes dan Hipertensi Picu Kerentanan Tuberkulosis
- 06 Apr 2026 21:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan penderita diabetes dan hipertensi tidak terkontrol lebih rentan tertular tuberkulosis akibat daya tahan tubuh menurun.
- Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia mencapai sekitar 1,09 juta orang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan penderita diabetes dan hipertensi tidak terkontrol lebih rentan tertular tuberkulosis akibat daya tahan tubuh menurun. Kondisi penyakit kronis yang tidak terkendali dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga memudahkan infeksi berkembang.
“Hipertensi dan diabetes tak terkontrol itu bikin daya tahan tubuh turun. Maka itu, orang hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol banyak sekali yang kena tuberkulosis,” kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus saat konferensi pers Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di Jakarta, Senin, 6 April 2026.
Ia mengatakan banyak masyarakat tidak menyadari dirinya mengidap hipertensi atau diabetes karena penyakit tersebut sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, Kemenkes mendorong masyarakat untuk mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan setiap tahun.
“CKG dilakukan karena begitu banyak masyarakat yang sakit tidak tahu. Mereka tidak tahu punya diabetes atau kolesterol,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia mencapai sekitar 1,09 juta orang. Pada 2025, sebanyak 867 ribu kasus telah ditemukan dan diobati, namun masih ada sekitar 300 ribu kasus yang belum terdeteksi.
“Masih ada sekitar 300 ribu kasus yang belum ditemukan. Tantangan kita adalah bagaimana mengeliminasi TB. Kuman TBC harus tidak ada lagi agar benar-benar bisa dieliminasi,” kata dia.
Perwakilan World Health Organization (WHO) Indonesia, Setiawan Jati Laksono menyebut bakteri penyebab TB yakni Mycobacterium Tuberculosis telah ditemukan sejak 144 tahun lalu dan pengobatannya pun sudah tersedia. Namun, kata dia, penyakit Tuberkulosis, l masih menjadi ancaman kesehatan global.
“Secara global diperkirakan terdapat 10,7 juta kasus TB setiap tahun. Pada 2025, sekitar 8,4 juta kasus telah ditemukan, tetapi masih ada sekitar 2,4 juta kasus yang belum terdeteksi,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....