Kemenkes: Gangguan Pendengaran Anak Pengaruhi Tumbuh Kembang dan Prestasi

  • 02 Mar 2026 14:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta : Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut gangguan pendengaran pada anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data menunjukkan, salah satu penyebab terbanyak berasal dari sumbatan kotoran telinga atau serumen.

“Gangguan pendengaran akibat serumen atau kotoran telinga itu mencapai 18,8 persen pada anak-anak. Sementara adanya cairan di dalam telinga sebesar 2,4 persen,” kata Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi saat konferensi pers Hari Pendengaran Sedunia di kantor Kemenkes, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026

Ia juga menyoroti kasus tuli pada bayi baru lahir yang angkanya berkisar 0,1 hingga 0,2 persen. Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung terhadap tumbuh kembang anak.

“Kalau anak tidak mendengar apa-apa, bagaimana dia menerjemahkan perintah dari orang tuanya?. Kemampuan bahasa sangat bergantung pada pendengaran,” ucap Nadia menegaskan.

Nadia menjelaskan, kemampuan bahasa terbentuk dari proses meniru suara yang didengar. Ketika pendengaran terganggu, anak kesulitan meniru kata, sehingga fondasi perkembangan bahasa dan sosialnya terhambat hingga dewasa.

“Manusia itu sebenarnya meniru. Kalau dia tidak mendengar, dia tidak bisa meniru kata-kata yang bisa dia dengarkan dengan baik. Ini fondasi sekali bagi kehidupan anak-anak,” ujarnya.

Sementara, Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan gangguan pendengaran hingga 50 persen pada 2030. Hal tersebut disampaikan Dokter spesialis THT-KL Konsulen Fikri Mirza Putranto.

“Kita sudah berkomitmen menurunkan angka gangguan pendengaran hingga 50 persen pada 2030. Dalam upaya itu, kami bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan pendengaran di Indonesia,” kata Fikri.

Ia menjelaskan terdapat lima penyebab utama gangguan pendengaran, salah satunya infeksi telinga. Berdasarkan penelitian tahun 2019, angka infeksi telinga pada anak usia sekolah mencapai 2,9 persen.

“Infeksi telinga ini sering dimulai pada usia 2-5 tahun. Tetapi gangguannya baru terasa saat usia produktif ketika anak mengalami masalah komunikasi,” ucapnya.

Selain itu, Fikri menyampaikan gangguan pendengaran bawaan juga menjadi perhatian. Dengan angka kejadian 0,1–0,2 persen pada bayi baru lahir, diperkirakan terdapat sekitar 5.000 kasus baru setiap tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....