Kurma Dicampur Glukosa, Anggota DPR Khawatir Pengidap Diabetes Makin Banyak
- 26 Feb 2026 11:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Maraknya peredaran kurma yang dicampur sirop glukosa dan pengawet mendapat perhatian anggota Komisi IX DPR, Neng Eem Marhamah. "Saya khawatir akan semakin banyak penderita diabetes akibat mengonsumsi makanan tersebut," ujarnya, Kamis 226 Februari 26.
Karena itu, Neng Eem meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bekerja ekstra keras selama Ramadan 2026. Tujuannya untuk mengamankan produk kurma yang beredar di Indonesia hingga menjelang Idulfitri 2026.
"BPOM harus memastikan bahwa kurma yang beredar benar-benar aman," ujarnya, Kamis 26 Februari 2026 di Jakarta. Terutama bagi penyandang diabetes yang bisa sangat terdampak oleh tambahan glukosa tersebut.
Legislator Fraksi PKB itu mengingatkan kurma merupakan buah yang disakralkan secara religi oleh umat Islam. Karena itu, sangat disayangkan jika kepercayaan masyarakat ini justru dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
"Situasi seperti ini menjadikan kurma sebagai komoditas favorit dengan permintaan sangat tinggi di Tanah Air," ucapnya. "Sehingga, jangan sampai ada oknum yang mencari kesempatan untuk meraih keuntungan dengan cara-cara yang tidak sehat."
Neng Eem juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada kelancaran suplai produk kurma di Indonesia. Menurut dia, pemerintah melalui BPOM harus memperketat pengawasan mutu dan pelabelan produk kurma tersebut.
Jika tidak ada tindakan tegas, Neng Eem khawatir praktik penyiraman sirup glukosa tanpa label ini akan semakin marak. Alhasil ujung-ujungnya dapat merugikan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
"Kami meminta BPOM kian tegas menindak pedagang nakal," ucapnya. Jika label dan kandungan produknya tidak sesuai, Neng Eem meminta BPOM tidak ragu menghentikan peredaran kurma tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor kurma Indonesia menunjukkan tren signifikan selama tiga tahun terakhir. Pada 2025, misalnya, volume impor kurma mencapai 65 ribu ton dengan nilai USD94,1 juta.
Ini merupakan kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 60 ribu ton dengan nilai USD 89,5 juta. “Ini menunjukkan betapa strategisnya komoditas kurma ini bagi pasar domestik,” ujar Neng Eem.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....