Atasi Kecemasan, Tenaga Kesehatan Sarankan Skrining Mental Mandiri

  • 13 Feb 2026 21:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Inisiator Kaukus Keswa, dr. Rey Wagiu Basrowi, menyarankan agar anak muda melakukan skrining kesehatan mental secara mandiri. Pemeriksaan ini dapat diakses melalui internet maupun media sosial.

Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut untuk mengatahui status risiko gangguan mental. "Skrining tersebut untuk mengetahui apakah saya berada di level moderate atau tidak, jika iya harus melakukan metode healing," katanya dalam diskusi bersama Kelakar Live, Auditorium Gedung Penunjang SLN, Radio Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Februari 2026.

Ia menekankan, jika hasil skrining menunjukkan risiko yang mulai berat, langkah selanjutnya adalah menjalani diagnosis oleh tenaga kesehatan. Ia juga menegaskan, self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri adalah hal yang berbahaya dan harus dihindari.

"Self-diagnosis pasti salah dan terlarang, karena ujung-ujungnya akan muncul ‘hasil diagnosis’. Padahal, seorang psikolog pun, setelah sekolah 4–5 tahun, masih kadang-kadang mengalami kesulitan dalam menegakkan diagnosis," ujarnya.

Ia menambahkan, risiko self-diagnosis semakin besar jika disertai saran pengobatan atau terapi yang tidak tepat. Hal itu karena bisa memperburuk kondisi mental, menimbulkan kecemasan tambahan, dan menghambat penanganan yang benar.

Ia juga mengungkapkan penyebab seseorang senang melakukan self-diagnosis walaupun berisiko. Salah satunya karena faktor biaya untuk konsultasi dokter profesional yang terlalu mahal.

Padahal, saat ini untuk melakukan pengecekan kesehatan mental telah sepenuhnya dibiayai oleh BPJS Kesehatan. "Sehingga masyarakat Indonesia bisa lebih tenang melakukan pengecekan kesehatan jiwa tanpa memikirkan biaya yang mahal," ucapnya.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, memastikan bahwa cek kesehatan mental ditanggung BPJS Kesehatan. Ia mengatakan, BPJS Kesehatan menanggung konsultasi psikolog maupun psikiater.

"Layanan gangguan kejiwaan termasuk salah satu manfaat yang dijamin BPJS Kesehatan," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Sabtu, 10 Mei 2025 lalu. Sebagai informasi, psikolog dan psikiater sendiri mempunyai beberapa perbedaan, salah satunya dilihat dari latar belakang pendidikan yang ditempuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....