Inisiator Keswa: Anxiety Berlebihan Tak Boleh Diabaikan

  • 13 Feb 2026 19:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Inisiator Kaukus Kesehatan Jiwa (Keswa), Ray Wagiu Basrowi, menilai kecemasan berlebihan tidak boleh diabaikan begitu saja. Ia menjelaskan anxiety merupakan respons alami tubuh, namun perlu diwaspadai ketika berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ia menjelaskan, gangguan kecemasan atau anxiety kian banyak dialami masyarakat, terutama generasi muda di tengah tekanan sosial dan ekonomi. Kondisi, kata dia, ini kerap dianggap sepele, padahal dalam jangka panjang dapat memicu gangguan fisik dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

“Rasa cemas itu manusiawi. Namun jika berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya usai dialog 'Kelakar Live' bersama PRO3 RRI , Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

Ray menyebutkan, gejala kecemasan tidak hanya muncul dalam bentuk pikiran negatif atau rasa khawatir berlebihan. Ia menambahkan, keluhan fisik seperti jantung berdebar, sulit tidur, keringat dingin, hingga gangguan pencernaan sering kali menjadi tanda yang tidak disadari.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami perbedaan antara stres sesaat dan gangguan kecemasan yang menetap. Ketika gejala berlangsung dalam rentang waktu panjang serta memicu gangguan psikosomatis, maka intervensi profesional menjadi langkah yang disarankan.

“Jika sudah muncul gejala psikosomatis seperti sesak napas atau serangan panik berulang. Jangan ragu untuk menjalani psikoterapi,” katanya.

Sementara itu, komika Reno turut membagikan pengalamannya menghadapi kecemasan beberapa tahun lalu. Ia mengaku sempat mengalami fase overthinking berlebihan yang kemudian disadarinya sebagai bentuk anxiety.

“Bahasa saya waktu itu overthinking tingkat lanjut. Kalau saya menyebutnya adalah anxiety,” ujarnya.

Reno menuturkan kecemasan itu muncul tiba-tiba tanpa sebab yang jelas dan terasa seperti serangan panik ringan. Ia merasakan kekhawatiran berlebihan, kebingungan menentukan langkah, serta keraguan terhadap pilihan hidup dan profesinya.

“Datang rasa khawatir, sedih, dan merasa pilihan hidup saya salah. Saat pekerjaan sepi, saya sempat berpikir lebih baik bekerja kantoran saja,” katanya.

Ia mengaku pernah berada di titik emosional ketika mendengarkan lagu rohani dan memilih berserah diri. Momen tersebut membuatnya menangis dan menyadari bahwa ia perlu menerima proses hidup yang sedang dijalani.

“Jangan pernah berhenti dan merasa putus asa. Kalau kondisi itu berlangsung lama dan memicu gejala fisik, menurut saya sudah waktunya mencoba psikoterapi,” ucapnya.

Ray menegaskan pengalaman Reno menunjukkan bahwa gangguan kecemasan dapat dialami siapa saja tanpa memandang latar belakang profesi. Ia berharap semakin banyak figur publik berani berbicara agar masyarakat tidak ragu mencari pertolongan ketika mengalami gejala serupa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....