Kemendukbangga Tekankan Pentingnya Pembahasan Isu Kependudukan
- 20 Nov 2025 09:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menekankan isu kependudukan tak hanya berkaitan dengan angka kelahiran dan kematian. Isu ini juga berkaitan dengan kualitas keluarga dan daya saing generasi muda.
Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan lapangan 350 mahasiswa dan dosen dari Universitas Negeri Padang. Acara digelar di kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
“Bonus demografi tidak otomatis membawa berkah. Ia harus dikelola dengan kebijakan yang tepat agar menjadi kekuatan bagi bangsa,” ujar Ratu Ayu Isyana saat membuka acara.
Selain itu, Sekretaris Kementerian Prof. Budi Setiyono memberikan paparan bertema “Stabilitas dan Ketahanan Demografi: Jalan Menuju Indonesia Emas 2045”. Ia mengajak mahasiswa untuk ikut memikirkan arah pembangunan bangsa, terutama dalam memanfaatkan momentum bonus demografi.
“Bayangkan sebuah bangsa di mana lebih dari dua pertiga penduduknya berada dalam usia produktif. Mereka muda, energik, berpendidikan, dan siap bekerja. Itulah potret Indonesia hari ini: negara dengan bonus demografi terbesar di Asia Tenggara,” ujar Prof. Budi.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), hingga tahun 2035 proporsi penduduk usia produktif (15–64 tahun) mencapai lebih dari 70 persen dari total populasi. Dalam teori ekonomi kependudukan, kondisi tersebut disebut “window of opportunity” — jendela peluang yang hanya datang sekali dalam sejarah suatu bangsa.
Bila dikelola dengan baik, bonus demografi bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Lebih banyak orang bekerja berarti lebih banyak produksi, lebih besar konsumsi, dan lebih tinggi tabungan nasional.
Namun bila dibiarkan, ia justru akan berubah. Yaitu menjadi “bencana demografi”: pengangguran muda, urbanisasi tak terkendali, dan ketimpangan sosial yang melebar.
Karena itu, tantangan Indonesia bukan sekadar menikmati bonus ini, melainkan bagaimana menjadikannya berkelanjutan. Di sinilah konsep demographic resilience atau ketahanan demografi menjadi kunci.
Dari Bonus Menuju Ketahanan Demografi
Stabilitas dan ketahanan demografi, menurut Prof. Budi, adalah kemampuan suatu bangsa untuk beradaptasi dengan perubahan struktur penduduk. Yaitu tanpa kehilangan kesejahteraan sosial dan stabilitas ekonomi.
Bonus demografi hanyalah fase; ia akan berlalu. Setelahnya, Indonesia akan menghadapi penuaan penduduk. Bila sekarang kita gagal menyiapkan fondasi ketahanan demografi, maka ketika populasi menua, negara bisa kewalahan menanggung beban sosial.
Namun, bila bonus ini dikelola dengan visi jauh ke depan, ia akan menjadi pondasi bagi Indonesia Emas 2045. Negara maju yang tangguh secara ekonomi, sosial, dan budaya.
Suasana kuliah umum semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial bertanya.
Yakni bagaimana strategi agar bonus demografi tidak hanya menguntungkan kota besar. Tetapi juga daerah terpencil.
“Setiap daerah memiliki dinamika demografis yang berbeda. Kebijakan harus berbasis data dan memperhitungkan kapasitas lokal," ucapnya.
Di sinilah, kata dia, pentingnya perencanaan berbasis data keluarga yang sudah dilakukan Kemendukbangga.”
Mahasiswa lain menanyakan bagaimana peran masyarakat dalam mendukung pemerintah menghadapi tantangan ketenagakerjaan dan kualitas generasi muda.
“Pembangunan demografi tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada pemerintah,” kata Prof. Budi. Masyarakat, kata dia, harus menjadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....