Jenis makanan Yang Bisa memicu Stroke
- 03 Okt 2025 17:12 WIB
- Talaud
KBRN, Talaud: Pola makan yang tidak sehat masih menjadi salah satu penyebab utama berbagai penyakit kronis di Indonesia. Salah satunya adalah stroke penyakit yang dikenal luas sebagai pembunuh senyap karena kerap menyerang secara tiba-tiba tanpa gejala yang signifikan sebelumnya.
Mengutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stroke menempati posisi kedua sebagai penyebab kematian terbanyak secara global dan menjadi penyebab ketiga terbesar untuk disabilitas jangka panjang. Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap faktor-faktor risiko yang memicu stroke salah satunya adalah asupan makanan sehari-hari.
Tanpa disadari beberapa jenis makanan yang biasa dikonsumsi justru dapat mempercepat risiko serangan stroke. Berikut lima jenis makanan yang perlu diwaspadai melansir dari health.grid.id:
1. Makanan Tinggi Gula
Kue, permen, minuman manis, dan makanan pencuci mulut lainnya memang menggoda lidah. Konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan lonjakan kadar glukosa dalam darah yang berujung pada kerusakan pembuluh darah. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat memicu diabetes, obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Obesitas yang diakibatkan oleh kelebihan asupan gula juga memperburuk kondisi pembuluh darah, mempercepat pembentukan plak, dan menyulitkan sirkulasi darah ke otak.
2. Daging Merah
Mengonsumsi daging merah seperti daging sapi atau kambing dalam jumlah besar ternyata dapat membahayakan kesehatan jantung dan otak. Penelitian menunjukkan bahwa pria yang mengonsumsi dua porsi daging merah atau lebih setiap hari memiliki peningkatan risiko stroke hingga 28 persen. Sedangkan pada wanita risikonya meningkat hingga 19 persen. Lemak jenuh yang terkandung dalam daging merah dapat memicu penumpukan plak dalam arteri yang kemudian menyumbat aliran darah ke otak.
3. Makanan Tinggi Lemak Trans
Camilan seperti keripik, gorengan, donat, atau makanan cepat saji lainnya biasanya mengandung lemak trans yang tinggi. Lemak ini dikenal sebagai musuh utama bagi kesehatan pembuluh darah karena dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Akumulasi lemak trans dalam tubuh berkontribusi besar terhadap penyumbatan arteri yang berujung pada peningkatan risiko stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya.
4. Minuman Bersoda
Minuman bersoda mengandung gula tambahan dan zat kimia yang dapat meningkatkan kadar insulin dan memicu peradangan dalam tubuh. Jika dikonsumsi terus-menerus kondisi ini dapat menyebabkan resistensi insulin, memperburuk metabolisme, dan memicu gangguan pembuluh darah. Sumbatan yang terjadi dalam pembuluh darah otak akibat konsumsi soda secara berlebihan menjadi salah satu faktor pemicu stroke yang sering tak disadari.
5. Makanan Kaleng dan Cepat Saji
Jenis makanan ini umumnya mengandung sodium atau garam dalam jumlah tinggi. Kelebihan asupan sodium menyebabkan tekanan darah meningkat drastis yang merupakan salah satu pemicu utama stroke. Menurut rekomendasi American Heart and Stroke Association, batas aman konsumsi sodium per hari adalah 1.500 miligram. Banyak makanan olahan seperti makanan kaleng, mi instan, dan frozen food, jauh melampaui batas tersebut. Tak hanya itu bahan tambahan lain seperti MSG, baking soda, dan disodium phosphate yang lazim digunakan dalam makanan kemasan juga bisa menjadi jebakan bagi kesehatan pembuluh darah jika dikonsumsi tanpa pengawasan.
Mengubah pola makan bukan hanya soal menjaga berat badan tetapi juga investasi jangka panjang untuk menjaga fungsi otak dan jantung tetap optimal. Mengurangi konsumsi makanan manis, daging merah, makanan tinggi lemak trans, soda, serta makanan olahan tinggi sodium adalah langkah awal yang bisa dilakukan.
Lebih baik lagi jika kita mulai memperbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, serta makanan segar yang diolah sendiri agar kandungan nutrisinya tetap terjaga. Dengan kesadaran dan perubahan pola makan yang tepat risiko stroke dapat ditekan sejak dini. Ingat, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....