Chikungunya dan DBD, Sama-sama dari Nyamuk tapi Berbeda
- 13 Agt 2025 15:17 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu : Di tengah musim hujan, ancaman penyakit yang dibawa nyamuk kembali menghantui. Dua nama yang kerap muncul di kepala masyarakat adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) dan chikungunya. Sekilas, keduanya tampak mirip — sama-sama diawali demam tinggi dan disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti serta Aedes albopictus. Namun, di balik kesamaan itu, ada perbedaan penting yang perlu dikenali.
Penyebab dan Penularan
DBD disebabkan oleh virus dengue yang memiliki empat serotipe, sementara chikungunya disebabkan oleh virus chikungunya dari keluarga Togaviridae. Meski vektornya sama, virus yang dibawanya berbeda, sehingga gejala dan penanganannya pun tidak sama.
Gejala Utama
Pada DBD, gejala yang menonjol selain demam tinggi adalah penurunan trombosit yang dapat memicu perdarahan. Pasien sering mengalami bintik merah pada kulit, mimisan, gusi berdarah, bahkan perdarahan internal yang berisiko fatal jika tidak segera ditangani.
Sementara pada chikungunya, tanda khasnya adalah nyeri sendi hebat yang membuat penderita sulit bergerak, disertai ruam kulit dan nyeri otot. Meski nyeri sendi bisa berlangsung lama, chikungunya jarang menyebabkan kematian.
Lama Penyakit
DBD biasanya berlangsung 5–7 hari, namun fase kritis ada di hari ke-3 hingga ke-5 ketika trombosit menurun drastis. Chikungunya dapat pulih dalam 1–2 minggu, namun nyeri sendi bisa menetap hingga berbulan-bulan.
Pengobatan
Hingga kini, tidak ada obat antivirus khusus untuk keduanya. DBD memerlukan pemantauan ketat di rumah sakit, terutama untuk mencegah komplikasi akibat perdarahan. Chikungunya umumnya bisa dirawat di rumah dengan istirahat, pereda nyeri, dan menjaga asupan cairan, kecuali pada kasus berat atau komplikasi.
Pencegahan
Keduanya hanya bisa dicegah dengan memutus rantai nyamuk penular. Prinsip 3M Plus — Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang tempat penampungan air, ditambah penggunaan lotion antinyamuk dan pakaian tertutup — menjadi kunci.
“Kesamaan gejala di awal membuat masyarakat kadang keliru. Karena itu, jika demam tinggi tak kunjung turun dalam 2–3 hari, segera periksa ke fasilitas kesehatan untuk memastikan diagnosis,” jelas seorang dokter dari Dinas Kesehatan Bengkulu.
Dengan mengenali perbedaannya, masyarakat dapat lebih waspada, cepat bertindak, dan terhindar dari risiko komplikasi. Sebab, meski dibawa oleh nyamuk yang sama, cara keduanya menyerang tubuh berbeda — dan mengenalinya bisa menyelamatkan nyawa.
(KemenkesRI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....