Epilepsi Pada Anak Serta Cara Menanganinya

  • 02 Des 2024 10:01 WIB
  •  Bengkalis

KBRN, Bengkalis : Sebagai orang tua pasti merasa khawatir disaat anaknya menderita epilepsi, bahkan ingin mencari tahu penyebab epilepsi pada anak. Meskipun epilepsi masih belum diketahui pasti apa penyebabnya, tapi penyakit ini bisa dikelola secara efektif. Lewat penanganan yang tepat, frekuensi kejang akibat epilepsi akan berkurang seiring bertambahnya usia anak.

Meski tidak mudah menghadapi epilepsi pada anak, orang tua tetap harus memastikan anak mendapatkan perawatan dan pengobatan secara tepat. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat memengaruhi tumbuh kembang dan kemampuan belajarnya.

Epilepsi merupakan penyebab kejang paling umum terjadi pada anak. Dikutip laman situs Alodokter, epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf pusat atau aktivitas sel saraf di otak. Saat terjadi serangan, anak yang menderita epilepsi akan menunjukkan gejala kejang-kejang, bahkan hingga kehilangan kesadaran.

Dikutip laman situs Eka Hospital, ada banyak kemungkinan penyebab epilepsi, termasuk ketidakseimbangan bahan kimia pemberi sinyal saraf yang disebut neurotransmitter, tumor, stroke, dan kerusakan otak akibat penyakit atau cedera, atau kombinasi dari semuanya. Namun pada sebagian besar kasus, epilepsi dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas.

Gejala umum kejang atau tanda peringatan bahwa anak mungkin mengalami kejang yaitu melotot, gerakan menyentak lengan dan kaki, tubuh yang mengeras dan jadi kaku, penurunan kesadaran, masalah pernapasan atau pernapasan berhenti, kehilangan kontrol usus atau kandung kemih, jatuh tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, terutama jika dikaitkan dengan hilangnya kesadaran, tampak bingung, menganggukkan kepala secara ritmis, periode mata berkedip dan menatap cepat.

Adapun kejang pada anak memiliki banyak penyebab. Penyebab umum kejang pada anak-anak atau epilepsi yaitu demam (disebut kejang demam), genetic, cedera kepala, Infeksi sistem saraf pusat, kekurangan oksigen ke otak, hidrosefalus, gangguan perkembangan otak.

Menghadapi kondisi epilepsi pada anak tentunya memunculkan tantangan baru. Disarankan untuk selalu berpikir positif, mencari informasi yang akurat tentang epilepsi, dan membantu anak menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.

Dikutip laman situs Alodokter ada beberapa cara menghadapi epilepsi pada anak yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

1. Siapkan kebutuhan obat-obatannya

Obat-obatan untuk epilepsi tidak bertujuan untuk menyembuhkan, tetapi mengontrol gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini, serta mencegah kekambuhannya. Ada beberapa jenis obat-obatan yang umum digunakan dalam mengatasi epilepsi pada anak, antara lain Phenytoin, Carbamazepine, Valproat, Topiramate, Gabapentin, Oxcarbazepine, Zonisamide, Lamotrigine. Obat-obatan tersebut bisa menimbulkan efek samping berupa pusing, mual, penglihatan ganda, muncul ruam, dan gangguan koordinasi tubuh. Sementara itu, ada pula efek samping yang jarang terjadi, seperti hiperaktif dan mudah tersinggung.

Masing-masing jenis dan tipe epilepsi akan memerlukan obat-obatan yang berbeda, maka berikan anak obat-obatan dan dosis yang tepat sesuai dengan arahan dokter.

Jika anak telah memasuki usia sekolah, pastikan ia mengetahui tata cara pemakaian obat tersebut, seperti dosis dan waktu meminumnya saat di sekolah. Jelaskan pula kondisi anak kepada guru maupun pembimbing di sekolahnya.

2. Lakukan pendekatan dari sisi mentalnya

Anak yang menderita epilepsi dapat mengalami gangguan emosional, seperti rendah diri atau depresi. Namun, jangan biarkan hal itu terjadi. Untuk menguatkan kondisi kejiwaannya, jelaskan seputar penyakit yang dideritanya, misalnya apa itu epilepsi, apa gejalanya, dan bagaimana cara mengatasinya.

Tumbuhkan rasa percaya dirinya dengan mengatakan bahwa ia masih bisa melakukan aktivitas yang disukai, tetapi harus dilakukan secara hati-hati atau perlu pengawasan.

Bantu anak untuk memahami bahwa menjadi berbeda adalah hal yang normal. Anjurkan anak untuk terus fokus pada apa yang bisa ia lakukan. Anak juga masih bisa berprestasi karena epilepsi tidak memengaruhi kecerdasannya selama mendapatkan pengobatan dari dokter.

Beri tahu pula kondisi yang dialami anak anda kepada pihak sekolah dan teman-temannya agar tidak terlontar kata-kata yang bisa menyakiti hatinya. Jelaskan kepada mereka bahwa epilepsi bukanlah penyakit menular. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk menjauhinya.

3. Lakukan pengawasan dan selalu dampingi anak

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dampingi anak ketika ia menjalani aktivitas yang bisa membahayakan nyawanya apabila terjadi kejang, misalnya berenang. Anda juga dapat memakaikan pelindung kepala saat ia bersepeda dan jangan biarkan ia bersepeda sendirian.

Saat berada di kamar mandi, beri tahu anak agar tidak mengunci pintu kamar mandi. Maka dengan demikian, anda bisa dengan mudah menolongnya bila sewaktu-waktu ia mengalami kejang.

Hindari melakukan aktivitas yang membuatnya terlalu lelah dan mengalami demam karena hal ini bisa memicu terjadinya kejang.

Selanjutnya penanganan yang tepat saat anak kejang adalah, usahakan untuk tidak panik. Meski sulit, Anda harus tetap tenang dan lakukan beberapa penanganan untuk pertolongan awal yaitu:

a. Jauhkan anak dari benda berbahaya di sekitarnya, seperti benda tajam dan keras, tangga, serta perabot rumah.

b. Baringkan tubuhnya ke arah kanan atau kiri agar cairan dalam mulutnya bisa keluar dan tidak masuk ke jalan napasnya.

c. Saat dan setelah kejang, pantau napas Jika setelah kejang anak tidak bernapas, segera bawa anak ke IGD rumah sakit terdekat.

d. Selama dan setelah kejang berakhir, anak mungkin ketakutan dan bingung dengan kondisi yang dialami. Tenangkan ia dengan berkata bahwa semua baik-baik saja dan dampingi anak hingga ia merasa lebih tenang dan stabil.

e. Setelah kondisinya terlihat stabil, biarkan anak istirahat. Hindari memberikan obat tambahan, kecuali bila diresepkan oleh dokter.

Kejang akibat epilepsi adalah kondisi yang perlu mendapat pemeriksaan dan penanganan dokter. Terlebih, jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit dan disertai dengan sesak napas.

Jika kondisi anak semakin memburuk setelah mengonsumsi obat-obatan epilepsi, Anda bisa konsultasikan kepada dokter agar mendapat pengobatan baru atau menjalani terapi untuk mengontrol gejala epilepsi pada anak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....