Awas Halusinasi! Psikolog Ingatkan Batasan Idolakan Seseorang

  • 24 Nov 2024 17:35 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Mengidolakan seseorang adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun meskipun mengidolakan adalah bentuk ekspresi yang normal, tetap ada batasan yang harus dijaga agar tidak melampaui batas sehat.

Menurut Psikolog Klinis dan Dosen Psikologi, Infanti Wisnu Wardani, mengidolakan tidak boleh sampai mengganggu kenyataan sehari-hari. "Kita harus bisa membedakan antara fantasi dan realita," katanya dalam wawancara bersama RRI, Minggu (24/11/2024).

Ia memberi contoh bagaimana beberapa penggemar sampai membuat fantasi seolah-olah telah bertemu atau bahkan hidup bersama dengan idola mereka. Jika hal ini terjadi, ia memperingatkan bahwa halusinasi seperti ini bisa dikategorikan sebagai gangguan psikologis.

Menurut Infanti, gangguan terjadi saat seseorang menganggap fantasinya sebagai bagian dari kenyataan hidup. Misalnya, seseorang yang meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa ia telah bertemu atau makan bersama idolanya. "Jika sudah sampai tahap ini, hal tersebut masuk ke ranah gangguan psikologis," ujarnya.

Ia juga menjelaskan fenomena mengidolakan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan cenderung lebih ekspresif, sementara laki-laki biasanya tidak terlalu menunjukkan antusiasmenya secara terang-terangan. Contoh kasus seperti fenomena euforia penggemar perempuan terhadap atlet bulutangkis Jonatan Christie menjadi sorotan Infanti.

"Respons yang tidak terkendali, seperti komentar-komentar vulgar di media sosial, sebenarnya sudah masuk dalam kategori pelecehan," ucapnya.

Salah satu bentuk idolisasi yang sering dijumpai adalah pengorbanan finansial berlebihan demi membeli barang-barang terkait idola, seperti jersey atau merchandise. Dia mengingatkan bahwa tindakan seperti ini harus tetap realistis. "Tidak masalah jika memiliki penghasilan besar, namun jika penghasilan terbatas dan sampai harus berhutang, itu bukan lagi keputusan yang bijak," katanya.

Ia menggarisbawahi pentingnya mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan impulsif. Fans yang sehat tidak akan sampai mengorbankan kebutuhan dasar mereka hanya demi memuaskan hasrat sesaat.

Infanti memberikan beberapa saran untuk menjadi penggemar yang sehat dan tetap menjaga keseimbangan hidup. Pertama, ia menekankan pentingnya kesadaran diri (awareness) dan batasan yang jelas. "Jangan sampai terlalu mengganggu kehidupan nyata, baik idola maupun diri sendiri," ujarnya.

Kedua, ia mengingatkan untuk selalu mengelola ekspektasi dengan kenyataan. Penggemar harus bisa menerima bahwa interaksi dengan idola sering kali terbatas dan penuh batasan. Ketiga, manajemen waktu juga penting untuk menjaga agar aktivitas lain tidak terabaikan. "Kita tetap bisa menjadi penggemar yang baik tanpa mengorbankan pekerjaan atau waktu bersama keluarga," ucapnya.

Terakhir, ia menekankan pentingnya sikap positif dan dukungan sosial yang sehat dari orang-orang di sekitar. "Euforia saat menonton pertandingan atau konser itu wajar, tetapi setelah itu harus kembali ke realita," katanya.

Ia juga mengingatkan untuk tidak menjadi stalker atau mengganggu idola dengan pesan-pesan yang berlebihan. Mengidolakan seseorang harus dilakukan dengan bijak. Kesadaran akan batasan diri dan menjaga keseimbangan antara fantasi dan kenyataan menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam perilaku yang mengarah pada gangguan psikologis. Dengan demikian, penggemar bisa tetap menikmati kesenangan tanpa kehilangan keseimbangan dalam kehidupan nyata mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....