Mengenal Disleksia di Hari Disleksia Sedunia 8 Oktober

  • 08 Okt 2024 19:59 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Di Indonesia, disleksia menjadi agak asing untuk diketahui. Padahal berdasarkan data Asosiasi Disleksia Indonesia bahwa 5 juta dari 50 juta jumlah anak sekolah di Indonesia mengalami disleksia dengan rata-rata 2 juta kasus setiap tahunnya.

Disleksia merupakan salah satu gangguan dalam proses belajar seperti berbicara, membaca, mengeja. Hari Disleksia Sedunia diperingati setiap 8 Oktober, ditujukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai disleksia, dalam pemahaman, penerimaan dan dukungan bagi para penyandang disleksia di seluruh dunia.

Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. Disleksia tergolong gangguan saraf pada bagian otak yang memroses bahasa, dan dapat dijumpai pada anak-anak atau orang dewasa.

Dilansir dari laman Kemenkes, disleksia memiliki gejala yang bervariasi, tergantung usia dan tingkat keparahannya. Pada anak-anak, gejala awal mungkin sulit dikenali, namun seiring bertambahnya usia, terutama saat memasuki sekolah, kesulitan dalam membaca dan menulis menjadi lebih jelas.

Meskipun individu dengan disleksia kesulitan dalam belajar, penyakit ini tidak memengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. Belum diketahui secara pasti penyebabnya namun berhubungan dengan kelainan genetik yang mempengaruhi kinerja otak dalam membaca dan berbahasa.

Penderita disleksia bisa dibantu dalam perkembangan belajar dengan intervensi pendidikan dan penanganan yang tepat. Tujuan dari hari Disleksia ini agar mereka yang mengalami disleksia bisa mengatasi gejala dan meningkatkan kemampuannya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....