Viral: Tren “Quiet Quitting” di Kalangan Pekerja Muda
- 17 Nov 2025 13:53 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Istilah “quiet quitting” kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah konten viral di TikTok dan X (Twitter) menyoroti sikap pekerja muda yang memilih untuk bekerja “secukupnya”. Fenomena ini mengacu pada perilaku karyawan yang hanya menjalankan tugas sesuai deskripsi pekerjaan, tanpa berinisiatif lebih atau terlibat di luar jam kerja.
Tren ini pertama kali mencuat pada 2022 melalui unggahan Zaid Khan di TikTok, namun kembali menguat pasca-pandemi ketika banyak pekerja mengalami burnout dan mulai mempertanyakan keseimbangan hidup kerja.
Menurut laporan dari Universitas Pendidikan Nasional, generasi milenial dan Gen Z cenderung menolak budaya hustle yang menuntut produktivitas tanpa batas. Mereka lebih memilih menjaga kesehatan mental dan waktu pribadi daripada mengejar promosi atau pengakuan di tempat kerja.
“Quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja, tapi menolak ekspektasi tak tertulis yang sering membebani karyawan,” tulis Nusawork dalam analisisnya.
Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan HR dan manajer perusahaan. Sebagian melihatnya sebagai bentuk profesionalisme yang sehat, sementara lainnya menganggapnya sebagai penurunan loyalitas dan motivasi kerja. Beberapa perusahaan mulai merespons dengan pendekatan baru, seperti fleksibilitas jam kerja, evaluasi beban tugas, dan program kesejahteraan karyawan.
Tren “quiet quitting” ini menunjukkan pergeseran nilai dalam dunia kerja modern, dari loyalitas tanpa batas menuju keseimbangan hidup yang lebih sehat. Bagi banyak pekerja muda, bekerja dengan batas yang jelas bukanlah bentuk kemalasan, melainkan cara untuk menjaga keberlanjutan karier dan kualitas hidup jangka panjang.