Ladang Harapan Budidaya Jamur Dedem Sutopo
- 24 Feb 2026 09:04 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Di tengah teriknya cuaca Kota Kendari, siapa sangka ada kesegaran yang tumbuh subur di balik tumpukan rak-rak kayu. Adalah Dedem Sutopo, seorang akademisi dari Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo (UHO), yang berhasil membuktikan bahwa keterbatasan lahan dan iklim panas bukanlah penghalang untuk berbisnis agribisnis jamur tiram.
Berawal dari akhir tahun 2025 tepatnya 4 bulan terakhir ini, Dedem mencoba peruntungannya di dunia budidaya jamur. Pria yang telah menetap di Kendari sejak 2012 ini melihat peluang pasar yang sangat menggiurkan.
"Di Jawa, harga jamur tiram mungkin hanya kisaran Rp15 ribu sampai Rp25 ribu rupiah. Tapi di Kendari, harganya bisa tembus Rp55 ribu hingga Rp70 ribu rupiah per kilogram," ungkapnya.
Selisih harga yang signifikan inilah yang memantapkan langkahnya untuk membangun rumah budidaya jamur tiram miliknya.
Tidak hanya mengandalkan teori akademis, Dedem menerapkan strategi bisnis yang cerdas. Ia memfokuskan hasil panennya untuk menyuplai kebutuhan rumah makan miliknya sendiri. Di sana, jamur segar diolah menjadi berbagai menu lezat seperti jamur crispy, tumis jamur, hingga sate jamur.
Strategi ini efektif untuk mengenalkan jamur kepada masyarakat lokal yang mungkin belum terlalu familiar. "Saya ingin orang mencoba dulu rasanya. Dengan suplai ke rumah makan sendiri, tidak ada jamur yang terbuang. Bahkan jamur yang tampilannya kurang cantik untuk supermarket pun tetap punya nilai jual sebagai bahan olahan," tambahnya.

Kesuksesan Dedem terlihat dari angka-angka yang dicapainya. Dengan modal awal sekitar 9 juta rupiah untuk pengadaan 1.500 baglog (media tanam), ia berhasil meraup omzet hingga 18 juta rupiah hanya dalam waktu dua bulan.
Tingkat keberhasilan panennya pun mencapai lebih dari 95 persen. Meski dilakukan di lahan sempit, rumah jamurnya mampu menampung 2000 hingga 2.500 baglog dengan pengaturan rak yang efisien.
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) bukan sekadar bahan masakan yang lezat, tetapi juga kaya akan nutrisi. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
- Rendah Kolesterol: Memiliki tekstur menyerupai daging ayam namun sama sekali tidak mengandung kolesterol, sehingga sangat baik untuk kesehatan jantung.
- Sumber Protein Tinggi: Menjadi alternatif sumber protein nabati yang baik bagi tubuh.
- Meningkatkan Imunitas: Mengandung senyawa beta-glukan yang dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Kaya Vitamin dan Mineral: Mengandung vitamin B, D, serta mineral penting seperti zat besi, magnesium, dan fosfor.
(Sumber: Kementerian Kesehatan RI - P2PTM & Data Komposisi Pangan Indonesia)
Bagi Anda yang tertarik mengikuti jejak Dedem Sutopo, berikut adalah langkah-langkah praktis budidaya jamur tiram, khususnya di daerah bersuhu tinggi seperti Kendari:
1. Penyiapan Lokasi (Kumbung): Bangun rumah jamur menggunakan atap rumbia atau asbes yang dilapisi paranet untuk meredam panas. Gunakan lantai tanah untuk menjaga kelembapan.
2. Pengadaan Baglog: Beli baglog siap pakai dari produsen terpercaya (seperti di daerah Konda). Pastikan bibit sudah menyebar (miselium putih sudah merata).
3. Pengaturan Suhu dan Kelembapan: Ini adalah kunci utama. Jaga suhu ruangan agar tetap di bawah 30°C. Lakukan penyemprotan air di area lantai tanah secara rutin untuk menjaga kelembapan udara.
4. Masa Inkubasi dan Panen: Simpan baglog di rak secara vertikal atau horizontal. Dalam waktu kurang lebih 1 bulan, jamur pertama akan mulai muncul.
5. Perawatan Pasca Panen: Setelah panen pertama, bersihkan sisa pangkal jamur dan buka sedikit plastik pembungkus untuk memicu pertumbuhan jamur berikutnya. Masa produktif satu baglog biasanya berlangsung selama 2-3 bulan.

Namun demikian, dedem juga melakukan konsultasi terkait pertumbuhan budidaya jamur tiramnya ini, ke komunitasnya melalui WhatsApp.
Dedem berharap keberhasilan ini bisa diduplikasi oleh masyarakat luas dengan dukungan pemerintah. Ia berharap kepada Pemerintah Kota Kendari untuk memberikan lebih banyak sosialisasi, pelatihan, serta bantuan fasilitas atau dana bagi para pelaku agribisnis jamur.
Bagi pemula, ia berpesan: "Bangun koneksi dulu dengan pembudidaya, pelajari pemasarannya secara online maupun offline. Jika sudah punya basis pelanggan, barulah mulai budidaya sendiri agar hasilnya maksimal." (Nafi Bil Nadzari - IAIN Kendari)