Menjual Nasi Kuning untuk Biaya Sekolah Anak-Anak

  • 26 Jan 2026 10:36 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Sebelum matahari benar-benar menyapa Kota Kendari, kepulan asap tipis mulai membumbung dari sebuah lapak sederhana. Sejak pukul 05.00 pagi atau setelah shalat subuh, saat sebagian orang masih terlelap, Ibu Nurhayati (52) sudah bersiap di balik meja dagangannya, menyajikan menu sarapan yang menjadi tumpuan hidup keluarganya selama hampir sewindu terakhir.

Bagi Ibu Nurhayati, nasi kuning ini bukan sekadar pengganjal perut bagi pelanggan yang datang. Bagi Nurhayati, setiap porsi yang terjual adalah butiran harapan untuk membiayai tujuh orang anaknya.

Perjalanan Nurhayati membangun usaha ini dimulai sekitar delapan tahun lalu. Tanpa bantuan modal dari pihak luar, ia memberanikan diri merintis jualan ini seorang diri demi menopang ekonomi keluarga.

“Ndak, rintis sendiri, sayaji yang rintis,” ungkap Ibu Nurhayati, penjual Nasi Kuning tersebut, Rabu 21 Januari 2026.

Tantangan modal dan tempat sempat menjadi batu sandungan, namun dorongan untuk memberikan pendidikan layak bagi anak-anaknya jauh lebih besar daripada rasa lelahnya.

Ujian hidup terasa kian berat bagi Nurhayati saat sang suami berpulang pada tahun 2022 lalu. Sejak saat itu, ia resmi memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi kelima anak perempuan dan dua anak laki-lakinya.

Meski penghasilannya tidak menentu berkisar antara Rp100.000 hingga Rp600.000 per hari, Nurhayati tetap konsisten membuka lapaknya hingga jam dua siang. Keuntungan dari jualan nasi kuning ini, ditambah sedikit pemasukan dari rumah kos miliknya, ia kumpulkan dengan telaten.

Ada misi besar di balik setiap butir nasi yang ia jual, yaitu pendidikan. “Ya, kasih sekolah anak-anak. Untuk biayanya anak sekolah toh,” ungkap ibu tujuh anak ini.

Dari ketujuh anaknya, sebagian besar telah lulus sekolah, satu orang kini tengah berjuang di bangku perkuliahan, sementara dua lainnya masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Meski kini ia juga memiliki pemasukan tambahan dari rumah kos, nasi kuning tetap menjadi saksi bisu perjuangannya selama bertahun-tahun.

Di usianya yang sudah berkepala lima, Ibu Nurhayati membuktikan bahwa kasih sayang seorang ibu tidak hanya lewat kata-kata, tapi lewat keringat yang tumpah di setiap porsi nasi kuning yang ia sajikan demi masa depan keluarganya.


Rekomendasi Berita