Tahun Baru China Ada Dua, Ini Bedanya!
- 25 Jan 2026 13:32 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Perayaan pergantian tahun yang kerap identik dengan lampion merah, kembang api, dan tradisi keluarga Tiongkok sering disebut dengan dua istilah berbeda, yakni Lunar New Year dan Chinese New Year.
Peneliti budaya Asia dari National University of Singapore (NUS) dalam publikasi bertajuk Lunar Calendars and Cultural Identity in East Asia menjelaskan bahwa istilah Lunar New Year merujuk pada perayaan tahun baru yang berbasis perhitungan kalender bulan yang digunakan oleh berbagai masyarakat di Asia Timur dan Asia Tenggara. Sementara itu, Chinese New Year secara spesifik mengacu pada tradisi tahun baru yang berkembang dalam budaya Tiongkok dan komunitas Tionghoa di berbagai negara.
Perbedaan dari Perspektif Akademik dan Budaya ;
1. Cakupan Perayaan
Asia Society Policy Institute mencatat, Lunar New Year dirayakan di berbagai negara Asia seperti Korea Selatan (Seollal), Vietnam (Tết), dan Mongolia (Tsagaan Sar).
Sementara itu, Chinese New Year secara khusus merujuk pada tradisi tahun baru masyarakat Tionghoa yang berakar pada kalender lunisolar Tiongkok.
2. Sistem Kalender
Menurut Encyclopaedia Britannica, kalender Tiongkok menggabungkan perhitungan bulan dan matahari untuk menentukan awal musim semi, yang menjadi dasar penetapan Chinese New Year. Istilah Lunar New Year digunakan lebih luas untuk menyebut perayaan berbasis siklus bulan di berbagai budaya Asia.
3. Nilai dan Makna Budaya
Laporan UNESCO menyebut Chinese New Year menekankan keharmonisan keluarga, penghormatan leluhur, dan simbol keberuntungan. Di negara lain, Lunar New Year memiliki makna lokal, seperti doa panen di Vietnam atau penghormatan orang tua dalam tradisi Seollal di Korea.
4. Simbol dan Tradisi
Kajian University of Hong Kong mencatat barongsai, petasan, dan angpao lebih khas dalam Chinese New Year, sedangkan Lunar New Year di negara lain menampilkan simbol dan ritual sesuai budaya setempat.
Dalam laporan tahunan tentang keberagaman budaya, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mencatat bahwa istilah Lunar New Year semakin banyak digunakan di forum internasional sebagai sebutan yang lebih inklusif. Hal ini bertujuan mengakomodasi berbagai tradisi tahun baru berbasis kalender bulan yang tidak hanya dimiliki oleh satu kelompok etnis.
Menurut kalender Masehi 2026, Tahun Baru Imlek 2577 Kongziliakan jatuh pada 17 Februari mendatang. Di Indonesia, perayaan tahun baru Imlek yang berkaitan dengan Chinese New Year telah ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 2003. Namun, dalam ruang publik dan media, istilah Lunar New Year juga mulai digunakan untuk menekankan keberagaman budaya Asia yang turut hidup di tengah masyarakat multikultural Indonesia. (Ananta Setiadi)