Merawat Kue Tradisional Khas Bugis Ibu Inayah
- 22 Jan 2026 15:24 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Di tengah maraknya kue modern dan makanan kekinian, seorang pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) asal Kolaka Utara tetap bertahan memproduksi kue tradisional Bugis dari usaha rumah tangga yang ia jalani sejak empat tahun terakhir.
Pelaku UMKM tersebut adalah Ibu Inayah, seorang ibu rumah tangga yang memproduksi berbagai kue tradisional Bugis seperti barongko, katirisalla, sanggara bandang, hingga tarajju. Usaha ini bermula dari pengamatannya terhadap kue tradisional yang kini semakin sulit ditemukan di pasaran.
“Awalnya saya melihat prospeknya, karena kue tradisional sekarang sudah susah ditemukan, apalagi kue modern semakin banyak berkembang,” ujar Ibu Inayah.
Dalam menjalankan usahanya, Ibu Inayah memproduksi kue-kue tradisional langsung dari rumah dengan mengutamakan kualitas bahan dan cita rasa. Ia memastikan seluruh bahan yang digunakan dipilih dalam kondisi segar dan bebas dari bahan pengawet.
“Kami memilih bahan yang segar di pasar dan menjaga cita rasa agar pelanggan tetap percaya. Yang paling utama, kue tradisional ini bebas dari bahan pengawet,” jelasnya.
Di tengah persaingan dengan kue modern, Ibu Inayah menilai kue tradisional memiliki pasar tersendiri. Menurutnya, perbedaan cita rasa antara kue tradisional dan kue modern membuat masing-masing memiliki peminat yang berbeda.
“Kue modern dan kue tradisional itu berbeda cita rasanya, jadi pasti ada peminatnya sendiri,” katanya.
Respon masyarakat terhadap kue tradisional Bugis yang diproduksi Ibu Inayah terbilang positif. Pembeli datang dari berbagai kalangan, mulai dari generasi muda hingga generasi tua. Bahkan, sebagian pelanggan mengaku rindu dengan kue-kue tradisional yang dahulu mudah ditemukan.
“Alhamdulillah respon pembeli baik, terutama generasi tua yang bilang sangat merindukan kue tradisional karena sekarang sudah mulai sulit ditemukan,” ungkapnya.
Selain untuk konsumsi harian, kue tradisional Bugis juga kerap dipesan dalam jumlah besar untuk berbagai kegiatan, seperti acara kampus, kegiatan sosial, hingga program Jumat Berkah.
“Biasanya ada juga pesanan untuk acara besar, dan alhamdulillah kami bisa menyediakan dalam jumlah banyak,” tambah Ibu Inayah.
Ibu Inayah berharap, usaha kue tradisional Bugis yang ia jalani dapat terus bertahan dan berkembang. Ia meyakini kue tradisional merupakan warisan budaya yang tidak akan tergantikan oleh perkembangan zaman.
“Harapan saya, semoga kue tradisional ini tetap ada, karena kue tradisional tidak bisa dihilangkan walaupun sampai ke mancanegara,” pungkasnya.
(Dinah Fadhilah Azmi - Unhas)