Dari Ladang Itik ke Panggung Akademik (V)
- 25 Sep 2025 20:34 WIB
- Kendari
KBRN,Kendari: Jika ada satu kata yang menggambarkan perjalanan Prof. Dr. I Ketut Suardika, kata itu adalah ketekunan.
Bagian kelima dari kisah hidupnya adalah babak panjang tentang bagaimana seorang anak petani miskin, yang membantu orang tua menjual es dan mengembala itik, akhirnya mencapai puncak tertinggi dalam dunia akademik: Guru Besar.
Dibiayai oleh Itik, Dimotivasi oleh Kerja Keras
Pendidikan dari SD hingga SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dapat terwujud berkat kegigihan orang tua beternak itik. Ini adalah fondasi ekonomi yang sederhana namun penuh makna.
Saat bersekolah di SMP Negeri Krambitan, Suardika remaja tidak hanya belajar, tetapi juga turut bekerja. Ia menjual es, menjual kue, dan membawakan nasi bekal untuk orang tuanya yang sedang mengembala itik keliling ke berbagai desa di Tabanan.
Ia juga membantu mencari makanan ternak dan menumbuk padi. Pengalaman ini mengajarkan arti tanggung jawab dan kerja keras sejak dini.
Merantau dan Melewati Gerbang Kritis
Titik balik besar terjadi ketika ia memutuskan merantau ke Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 1979 untuk mengikuti kakaknya dan pindah ke SPG Negeri Kendari. Di sinilah ujian pertama di perantauan menghadang.
Nilai rapotnya tidak jelas untuk kenaikan kelas, dengan nilai merah 5.5. Berkat ujian khusus yang diberikan oleh seorang guru, Abdul Fatah Kadir, BA, ia akhirnya dinyatakan naik ke kelas III A Jurusan Matematika dan lulus pada 1980.
Guru yang sama ini kembali menjadi malaikat penolong. Dialah yang membujuk saudara Suardika untuk mengizinkannya kuliah di UNHOL (Universitas Halu Oleo), yang kala itu masih swasta.
Keyakinan itu berbuah manis. Pada 1985, Suardika berhasil wisuda sebagai sarjana. Yang membanggakan, dari 40 orang yang ikut KKN, hanya 25 yang diwisuda, dan hanya 5 orang di antaranya—termasuk Suardika—yang masih berstatus muda dan belum bekerja.
Karier Dimulai: Dari PNS ke Dosen
Tahun 1986, ia resmi menjadi CPNS dengan gaji pokok Rp 64.100,- dan ditempatkan di SGO Negeri Kendari. Karirnya terus menanjak.
Ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kehumasan dan berkesempatan mengikuti penataran di Jakarta pada 1989—sebuah pengalaman yang membuka wawasannya.
Puncak perubahan karier terjadi pada 1991. Tempat kerjanya dialihkan dan ditingkatkan statusnya menjadi dosen di Program Studi PGSD FKIP Universitas Halu Oleo (UHO). Inilah momen dimana ia benar-benar memasuki dunia akademik yang akan menjadi medan pengabdiannya.
Menaklukkan Menara Gading: S1 Kedua, S2, dan S3
Dengan semangat belajar yang tak pernah padam, Prof. Suardika terus mengejar gelar akademik lebih tinggi, seringkali dengan beasiswa penuh dari pemerintah:
• S1 Kedua: Jurusan IPA SD di IKIP Bandung (1993-1995).
• S2 (Magister): Ilmu-Ilmu Sosial konsentrasi Sosiologi dan Antropologi di Universitas Airlangga (1989). Uniknya, dari 32 mahasiswa, hanya dua orang, termasuk dirinya, yang lulus tepat waktu.
• S3 (Doktor): Program Studi Kajian Budaya (2009-2011/2012). Ia kembali menjadi satu dari hanya dua orang yang lulus dari program beasiswa tersebut.
Puncak Prestasi: Sertifikasi Dosen dan Guru Besar
Kesuksesan akademiknya berlanjut:
• 2013: Ia lolos Sertifikasi Dosen dan dipercaya menjadi Ketua Program Studi (Kaprodi) S2 Pendidikan Seni.
• 2020: Setelah perjuangan panjang sejak 2016, termasuk mempublikasikan jurnal internasional bereputasi (scopus), impian tertinggi akhirnya terwujud. Ia secara resmi menerima SK Guru Besar yang berlaku surut sejak 1 Desember 2019.
Refleksi: Dedikasi Pengabdian yang Tak Kenal Henti
Menjadi guru besar bukanlah akhir perjalanan. Hingga 2021, ia masih aktif mengajar puluhan mata kuliah di tingkat S1 dan S2, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, pengabdian masyarakat, dan menjadi pemateri seminar.
Tunjangan kehormatan sebagai guru besar yang diterimanya dimanfaatkan dengan bijak untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Anak pertama telah menyelesaikan spesialis dokter kandungan, anak kedua dengan jurusan Farmasi, dan anak ketiga sementara melanjutkan spesialis konservasi gigi di UNPAD Bandung.
(Bagian V)