Dari Ladang Itik ke Panggung Akademik (IV)
- 25 Sep 2025 20:27 WIB
- Kendari
KBRN,Kendari: Dalam perjalanan hidup seseorang, seringkali ada sosok yang muncul bagai pelita di kegelapan, mengubah arah takdir dengan keyakinan dan kebaikan hatinya.
Bagi Prof. Dr. I Ketut Suardika, sosok itu adalah I Wayan Rigeh, seorang guru sekolah dasar yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga meramal dan mewujudkan masa depan.
Bersekolah di Tengah Keterbatasan Infrastruktur
Perjalanan akademis Prof. Suardika dimulai dalam kondisi yang sangat sederhana. Sekolah Rakyat (SR) Negeri Kerambitan tempatnya belajar belum memiliki gedung permanen.
Mereka menumpang di Balai Goong Br. Kukuh Krambitan. Bahkan ketika bangunan kayu akhirnya selesai, lokasinya masih berupa bekas sawah yang tanahnya tidak rata, dikelilingi pepohonan.
Setiap hari, sebelum belajar, para siswa—dengan baju seragam hanya satu pasang yang sengaja dibeli besar agar awet—melakukan kerja bakti membersihkan sekolah.
Alat tulisnya adalah sabak dan grif, lempengan batu tulis yang harus dihapus setelah pelajaran selesai, memaksa daya ingat anak-anak untuk bekerja ekstra keras. Kondisi ini melatih kedisiplinan dan ketangguhan sejak dini.
Pertemuannya dengan Sang Guru Inspiratif
Di kelas 5, titik balik itu datang. I Wayan Rigeh, guru yang mengajar Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, dan Kewarganegaraan, melihat sesuatu yang istimewa dalam diri Suardika kecil.
Keyakinannya tidak main-main: "Kamu pintar, ulet, jujur dan pekerja keras. Bapak yakin kamu bisa lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan kamu bisa jadi professor," ucapan prof menirukan gurunya.
Keyakinan ini bukan sekadar motivasi di kelas. I Wayan Rigeh mendatangi orang tua Suardika yang hanya petani biasa. Dengan penuh ketulusan, ia berkata, "Ini anak otaknya jadi. Kalau kalian tidak bisa menanggung pendidikannya nanti, biar saya yang membayarnya," Janji ini adalah sebuah tindakan heroik di tengah lingkungan di mana pendidikan adalah kemewahan.
Melawan Arus Pesimisme di Desa
Lingkungan saat itu tidak mendukung. Di desa Krambitan, melanjutkan sekolah adalah pilihan kesekian. Mayoritas anak putus sekolah untuk bekerja mencari uang.
Seorang temannya bahkan mengejek cita-citanya, "Memang kalau kamu sudah pintar, kamu mau ganti siapa? Pak Camat? Tukang pos? Atau kepala desa? Hahahaha.... jangan mimpi!," menirukan temanya di kampung.
Dalam atmosfer pesimisme ini, keyakinan I Wayan Rigeh menjadi oase penyemangat. Dukungannya lahir dari pengamatan yang mendalam.
Ia melihat Suardika kecil rajin "mejukut" (membersihkan rumput) di sawahnya dekat permandian, sementara anak lain hanya bermain. Dari sikap suka menolong dan bertanggung jawab inilah sang guru meramal masa depannya yang cerah.
Pesan Abadi dan Warisan yang Hidup
Wejangan I Wayan Rigeh sederhana namun mendalam: "Kunci dari sukses pendidikan itu adalah rajin belajar, disiplin, dan jaga kejujuran kamu walaupun itu sulit." Pesan ini dibawa Suardika hingga merantau ke Kendari, menjadi sarjana, dan menjadi PNS.
Setiap kali pulang, sang guru selalu menyambutnya dengan bangga. Wejangan terakhirnya sebelum meninggal adalah, "Ingat...jangan malas-malas kalau sudah jadi PNS!"—sebuah pesan yang terus bergema sebagai pengingat untuk selalu berdedikasi.
(Bagian IV)