Kendari Salah Satu Basis Perang Dagang Digital

  • 07 Feb 2026 10:18 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Di abad ke-21, perang dagang tidak lagi semata-mata soal baja, energi, dan gandum. Medan pertempurannya telah bergeser ke ruang digital server, algoritma, dan juga big data. Inilah yang kita kenal dengan perang abad ke-21 . sebuah kontestasi global yang sunyi, namun dampaknya sangat nyata bagi ekonomi, kedaulatan, dan masa depan masyarakat. 

Perang dagang digital terjadi ketika negara-negara dan korporasi teknologi raksasa saling berebut pengaruh melalui penguasaan platform digital, ekosistem aplikasi, data pengguna, hingga standar teknologi tinggi. 

Konflik ini tidak selalu diwujudkan dalam tarif atau embargo konvesional, melainkan melalui regulasi, data, pembatasan aplikasi, pajak layanan digital, dan dominasi pasar digital lintas negara. Kota Kendari sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara kini berada pada posisi strategis, bukan hanya sebagai pasar digital, tetapi berpotensi menjadi basis ekonomi digital regional yang menentukan arah persainagn usaha lokal dan nasional.

Di era platform, perang dagang tidak lagi ditentukan oleh Pelabuhan dan Kawasan industri semata, melainkan oleh siapa yang menguasai transaksi digital, data konsumen, dan ekosistem marketplace lokal. Dalam konteks ini, Kendari bukan wilayah pinggiran, melainkan simpul penting dalam peta ekonomi digital Indonesia Timur.

Baca Juga : Pengusaha Lokal Dorong Diversifikasi Usaha Adaptasi Ekonomi Baru

 Aktivitas perdagangan di Kota Kendari menunjukkan pergeseran signifikan. UMKM, pedagang tradisional, hingga pengusaha sektor perikanan, pertanian, dan jasa kini bergantung pada marketplace dan media sosial sebagai saluran distribusi utama. Tahun 2026 pasar lokal tidak lagi terbatas pada ruang fisik, melainkan melebar ke platform digital yang sebagian besar dikendalikan oleh entitas besar di luar daerah bahkan luar negeri. Inilah titik awal perang dagang digital di tingkat kota. Ketika produk lokal Kendari diperdagangkan melalui platform global, maka nilai tambah, data transaksi, dan kendali algoritma tidak sepenuhnya berada di tangan pengusaha lokal maupun pemerintah daerah.

Secara geografis dan ekonomi, kota Kendari memiliki posisi unik, pusat administrasi dan jasa, penghubung distribusi wilayah kepualauan, dan simpul perdagangan hasil sumber daya alam dan UMKM menjadi poin strategis. Dalam kacamata platform digital, kota Kendari adalah pasar berkembang dengan potensi tinggi. Karena itu penetrasi marketplace besar, logistik digital, dan sistem pembayaran elektronik di Kendari sejatinya adalah bagian dari ekspansi ekonomi digital nasional dan global.

Kebijakan nasional terkait marketplace dan pajak digital pada akhirnya akan bermuara di daerah. Transaksi terjadi di Kendari, penguasahanya warga Kendari, dan dampak ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat Kendari. Artinya kota Kendari adalah front line kebijakan perang dagang digital. Solusi menghadapi perang dagang digital digital tidak cukup dengan himbauan untuk “go digital”, yang dibutuhkan adalah langkah nyata dan terarah agar UMKM lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki posisi tawar. 

Baca Juga : Ekonomi Digital, Peluang Karir Di Ekonomi Baru

Penguatan identitas produk lokal, kemandirian kanal pemasaran menjadi dan kolaborasi antar UMKM menjadi kunci penting. Dalam perang dagang digital, kekuatan kolektif mampu menandingi dominasi pemain besar. Klister UMKM, promosi bersama produk lokal, hingga berbagai logistik dan pemasaran dapat memperkuat daya saing UMKM secara keseluruhan. Selain itu, peningkatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, literasi bukan bukan untuk menjadikan UMKM sebagai ahli teknologi, tetapi agar mereka tidak sepenuhnya bergantung pada sistem yang tidak mereka pahami. 

Fokus pada kualitas, kemasan, dan pelayanan menjadi strategi jangka panjang dibandingkan perang harga. Pada akhirnya, dalam menghadapi perang dagang digital tidak hanya berada di tangan UMKM, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media, UMKM lokal dapat menjadi tulang punggung ekonomi daerah di tengah persaingan digital yang semakin ketat.

Rekomendasi Berita