Peran Media Sosial dan Gender Dikalangan Generasi Muda
- 04 Mar 2026 07:16 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Media sosial dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran gender di kalangan generasi muda, terutama dalam membuka ruang diskusi, edukasi, serta penyebaran nilai kesetaraan di era digital. Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Tonga Oleo yang disiarkan di Studio Pro 4 RRI Kendari, Selasa, 3 Maret 2026.
Dialog yang dipandu oleh pewawancara penyiar Yuliana Linda menghadirkan narasumber Ibu Marsia Sumule Genggong, S.Sos., M.Ikom, selaku Koordinator Program Studi Jurnalistik FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), serta Syam Sar Obe, M.Pd, Ketua Alumni Pertukaran Pemuda Antar Negara dan Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Sulawesi Tenggara.
Dalam dialog tersebut, Marsia Sumule Genggong menjelaskan bahwa media sosial kini menjadi ruang publik baru yang sangat berpengaruh terhadap cara generasi muda memahami isu gender. Menurutnya, platform digital memungkinkan penyebaran informasi yang lebih cepat sekaligus membuka akses edukasi yang sebelumnya terbatas.
“Media sosial memberi kesempatan bagi generasi muda untuk belajar tentang kesetaraan gender melalui berbagai konten edukatif, kampanye sosial, hingga pengalaman personal yang dibagikan pengguna,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga menekankan pentingnya literasi digital agar generasi muda mampu memilah informasi yang benar dan tidak terjebak pada stereotip maupun misinformasi terkait isu gender.
Sementara itu, Syam Sar Obe menyoroti pengalaman generasi muda dalam program pertukaran pemuda yang menunjukkan bahwa media sosial mampu memperluas perspektif lintas budaya mengenai kesetaraan gender. Ia menilai interaksi global melalui media digital membantu anak muda memahami nilai inklusivitas dan penghargaan terhadap perbedaan.
“Generasi muda sekarang lebih terbuka karena mereka terhubung dengan berbagai budaya dan pemikiran dari negara lain melalui media sosial. Ini mendorong tumbuhnya kesadaran gender yang lebih progresif,” jelasnya.
Meski membawa dampak positif, Syam juga mengingatkan adanya tantangan berupa penyebaran ujaran kebencian dan bias gender di ruang digital yang perlu diantisipasi melalui edukasi serta peran aktif komunitas.
Dialog Tonga Oleo kali ini menegaskan bahwa media sosial bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media pembelajaran sosial yang berperan penting dalam membangun pola pikir kritis generasi muda terhadap isu kesetaraan gender.
Melalui kolaborasi antara akademisi, komunitas pemuda, dan media penyiaran publik, diharapkan kesadaran gender di kalangan generasi muda terus meningkat serta mampu menciptakan lingkungan sosial yang lebih adil dan inklusif.