Wisatawan Jepang Antusias Ikuti Tradisi Jamasan Arca Totok Kerot Kediri
- 09 Jul 2026 19:34 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Wisatawan dan peneliti budaya asal Jepang, Saki Maeta (26) sangat antusias mengikuti tradisi jamasan Arca Totok Kerot di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri
- Prosesi jamasan tahun ini menggunakan air yang diambil dari tujuh mata air, di antaranya Sumber Bendo, Sumber Tengger atau Kemanten Wonorejo, Menang Kendung, Sumberejo, dan Sendang Tirtokamandanu
RRI.CO.ID, Kediri - Wisatawan dan mahasiswa S-3 Antropologi asal Jepang, Saki Maeta (26) sangat antusias mengikuti tradisi jamasan Arca Totok Kerot di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Pada Kamis, 9 Juli 2026, merupakan kegiatan tahun kedua pelaksanaan ritual yang bertepatan dengan bulan Suro ini, yang tidak sekadar menjadi kegiatan membersihkan cagar budaya.
Akan tetapi juga upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam legenda Totok Kerot. "Saya sangat tertarik dan antusias ketika mengetahui acara Jamasan Arca Totok Kerot dari media sosial, Instagram. Hal itu juga sejalan dengan Program S-3 saya yang mengambil jurusan Antropologi," kata Saki Maeta.
Pada acara ini, Saki juga mengajak anak muda di Indonesia terutama di Kediri untuk terus melestarikan budaya tradisional yang ada. Sebab dengan cara itu maka kekayaan khazanah budaya lokal dapat selalu dikenang sepanjang masa.
Koordinator Juru Pelihara Cagar Budaya Kabupaten Kediri, Edris berharap, tradisi jamasan Arca Totok Kerot dapat terus dilestarikan sehingga masyarakat semakin peduli terhadap keberadaan situs-situs bersejarah.
"Kami menginginkan masyarakat di sini ikut memiliki rasa tanggung jawab menjaga peninggalan leluhur. Cagar budaya adalah identitas daerah yang harus dirawat bersama-sama," kata Edris.
Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Eko Priatno menyebutkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Merti Cagar Budaya, yaitu tradisi merawat peninggalan sejarah sekaligus ungkapan syukur menyambut Tahun Baru Jawa di bulan Suro.
"Momentum bulan Suro menjadi waktu yang tepat untuk merawat cagar budaya sekaligus memohon keselamatan di tahun yang baru. Ini adalah inisiatif teman-teman juru pelihara yang kami dukung penuh karena memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Eko.
Diketahui, jamasan bukan sekadar membersihkan arca, tetapi juga menjadi media edukasi agar masyarakat semakin mengenal sejarah dan budaya lokal.
Adapun proses pembersihan dilakukan sesuai standar konservasi cagar budaya. Arca hanya dibersihkan menggunakan air dan sikat berbulu halus tanpa bahan kimia agar tidak merusak permukaan batu.
"Perawatan cagar budaya tidak boleh menggunakan sabun atau cairan apa pun. Hanya air dan sikat khusus agar kondisi batu tetap terjaga," kata Eko.
Secara arkeologis, Totok Kerot merupakan arca Dwarapala yang diperkirakan berasal dari masa akhir Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12. Namun di tengah masyarakat, arca tersebut lebih dikenal melalui legenda Totok Kerot yang diwariskan secara turun-temurun.
Konon, Totok Kerot diceritakan sebagai seorang putri dari wilayah selatan yang terpikat kepada Raja Sri Aji Joyoboyo. Karena terus memaksa ingin dipersunting dan dianggap mengabaikan nasihat, sang putri dikutuk hingga berubah menjadi batu.
"Kalau secara ilmiah ini adalah arca Dwarapala. Namun legenda Totok Kerot merupakan bagian dari kekayaan budaya yang mengajarkan pentingnya sopan santun dan menghormati nasihat orang tua. Nilai itulah yang ingin terus diwariskan kepada generasi muda," kata Eko.
Prosesi jamasan tahun ini menggunakan air yang diambil dari tujuh mata air, di antaranya Sumber Bendo, Sumber Tengger atau Kemanten Wonorejo, Menang Kendung, Sumberejo, dan Sendang Tirtokamandanu. Angka tujuh dipilih sebagai simbol pitulungan atau pertolongan. Selain itu, bunga melati digunakan sebagai pewangi alami saat prosesi siraman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....