Kebangkitan Petani Sang Tulang Punggung Ketahanan Pangan Indonesia

  • 22 Mei 2024 17:13 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2024 yang mengusung tema ‘Bangkit Untuk Indonesia Emas’ memiliki banyak arti yang berbeda-beda bagi masing-masing pihak. Bagi kaum buruh, mereka menjadikan Harkitnas sebagai momentum untuk bangkit dari keterpurukan dan memperoleh hak-haknya dalam hal keadilan dan kesejahteraan. Sementara bagi pegiat maupun penyandang disabilitas, tentu mereka ingin bangkit melawan segala macam bentuk diskriminasi dan memperoleh hak-hak kesetaraan. Tentu berbeda halnya dengan wujud kebangkitan petani sang tulang punggung ketahanan pangan Indonesia yang menjadi tema pembahasan dalam dialog interaktif Kediri Pagi Ini, Rabu (22/5/2024).

Semangat untuk bangkit bagi kalangan petani kali ini disuarakan oleh Ir. Soekam Parwadi, Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia di RRI Kediri, “ Melihat kondisi pertanian kita yang menurun bahkan sejak reformasi berjalan, maka sekarang adalah momentum yang tepat untuk melakukan koreksi. Kita bisa lihat sendiri saat ini kita bergantung pada impor beras, bahkan jagung untuk pakan ternak juga impor. Padahal kita dikaruniai kekayaan yang melimpah. Namun kembali lagi bahwa kebangkitan sektor pertanian harus diawali dari perubahan-perubahan dari lini stakeholder yang dibangun secara kuat dan memiliki visi misi sama, “ kata Soekam, sapaan akrabnya melalui opening statement yang disampaikan melalui telepon seluler kepada RRI.

“ Apa saja yang berperan dalam bangkitnya pembangunan pertanian? Negara sudah mengubah sistem yang dulunya terpusat menjadi otonomi daerah. Harusnya kan segala sesuatunya menjadi lebih baik. Berarti masalahnya dimana? Ada di bagian yang paling mendasar yakni Undang-Undang Pertanian yang masih berpedoman bahwa pertanian merupakan urusan pilihan yang diperhatikan. Seharusnya berubah menjadi urusan wajib yang diperhatikan, bukan pilihan lagi. Kalau UU sudah berubah dan diikuti program-program pertanian sesuai UU, Insya Allah pertanian akan lebih baik dan secara perekonomian juga berhasil, “ jelas Soekam.

Soekam turut memberikan penegasan kembali bahwa di momen penting Harkitnas 2024 perlu diingat bahwasanya petani adalah penguasa negara yang patut diprioritaskan, “ Bayangkan kalau petani mogok dan stop produksi dimana-mana, sudah dipastikan situasi dan kondisi negara kita akan memburuk. Pertanyaannya lagi, mengapa setelah pemberlakuan otonomi masih banyak ditemukan ketidaktepatan? Karena masih banyak yang belum menguasai ilmu dasar pertanian. Mohon dipahami bersama bahwa menempatkan pemimpin-pemimpin yang nantinya akan berfungsi sebagai pengambil kebijakan, harus dari kalangan profesional pertanian, “ ungkapnya dalam sesi diskusi interaktif bersama pendengar yang turut bergabung.

Melalui closing statement yang disampaikan, Soekam turut menyoroti lulusan-lulusan Sarjana Pertanian yang dirasa masih belum cukup matang secara keilmuan akademik, “ Sebelum meluluskan mahasiswa, hendaknya lembaga pendidikan bisa mengemas penyampaian materi tentang pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian dengan cara mencetak generasi muda menjadi pengusaha pertanian, bukan menjadikan mereka produk buruh tani. Mahasiswa pertanian tidak perlu memahami dan mempelajari keseluruhan komoditi, sebaiknya cukup dua komoditi misal bawang dan rambutan dipelajari secara mendalam mulai dari praktik agribisnis, membaca peluang pasar, memahami efisiensi teknologi, grading, branding, dan masih banyak lagi keilmuan pertanian lainnya yang wajib dikuasai, “ tutur Soekam seraya mengakhiri dialog yang berlangsung kurang lebih 60 menit ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....