Tenun Ikat, Ilustrasi Warisan Budaya dalam Harmoni Kediri

  • 13 Feb 2024 07:44 WIB
  •  Kediri

KBRN . Kediri: Secara historis, disisi barat Kota Kediri pada zaman dahulu seringkali digunakan untuk tempat persinggahan kapal-kapal dagang besar. Dengan dikenalnya Kota Kediri yang kala itu memiliki pelabuhan sungai besar berukuran empat kali lebih besar dari sungai brantas yang sekarang membentang disepanjang sisi barat, Kota Kediri akhirnya dijuluki sebagai ‘bandar’. Selain itu, kawasan Bandar Kidul Kota Kediri dulunya juga diyakini pernah menjadi dermaga

Salah satu warisan budaya yang terlahir dari aktifitas transportasi perdagangan melalui pelabuhan sungai besar di Kota Kediri yang masih bertahan hingga saat ini adalah usaha kerajinan tenun ikat di Kota Kediri. Dikembangkan oleh para pelaku bisnis etnik Tionghoa, usaha ini Berjaya di era 1950-an dan pada tahun 1965 sempat berhenti beroperasi akibat pergolakan politik nasional. Kerajinan tenun ikat mengalami pasang surut dari masa ke masa. Namun, dengan berbekal skill yang diperoleh pada saat menjadi buruh tenun, beberapa pengrajin pribumi yang mayoritas tinggal di kawasan Bandar Lor dan Bandar Kidul Kota Kediri ini berhasil menjalankan usahanya secara mandiri. Hebatnya, usaha tenun ikat bisa tetap bertahan secara turun temurun ditengah arus modernisasi industri yang kian kompetitif. Kini ada kisaran dua puluh rumah industri kerajinan tenun ikat yang masih bertahan di sentra tenun ikat Bandar Kidul Kota Kediri.

Segmen Pemberdayaan Masyarakat ‘Mozaik Indonesia’ RRI Kediri edisi Senin (12/02/2024) menghadirkan Slamet Sugianto, salah satu pengrajin tenun ikat Bandar Kediri yang kini juga merupakan pelaku UMKM. Diawal sesi paparannya, Slamet yang telah menjalankan wirausaha miliknya yakni ‘Palugada Tenun Ikat’, ia mengatakan bahwa masyarakat Kediri dulunya belajar tentang seni menenun dari para saudagar yang banyak dijumpai di dermaga. Perkembangannya pun sangat pesat karena yang dulunya hasil kerajinan tenun ikat hanya berupa sarung, kini sudah banyak produk turunannya seperti syal dan tas.

“Pengrajin tenun sempat terpuruk ketika pandemi covid-19. Bahkan hampir saja menutup industri tenun ikat, namun kami memikirkan nasib karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun lamanya. Akhirnya kami memutar otak memikirkan bagaimana supaya tetap bertahan. Kemudian kami memutuskan untuk mencoba membuat masker dengan bahan dasar kain tenun ikat, “ kata Slamet seraya menceritakan pembentukan pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang telah dilakukan demi menjaga eksistensi tenun ikat diantara gempuran produk modern. Terbukti nyata bahwa hal ini tidak sia-sia karena sentra tenun ikat Bandar Kidul Kota Kediri pernah memperoleh penghargaan juara 1 Desa Wisata se Jawa Timur.

Slamet patut merasa bangga manakala melalui pokdarwis yang ia gagas bersama rekan-rekannya yang hampir semuanya adalah pengrajin tenun ikat. Sentra tenun ikat Bandar terpilih dalam 300 besar Asosiasi Desa Wisata Seluruh Indonesia dengan jumlah peserta 70.000, “ Kami memang tidak diberikan warisan alam tapi kami memperoleh warisan budaya yang secara konsisten ikut menjaga kelestarian budaya menenenun. Alhamdulillah di tahun 2023 awal, tenun ikat terdaftar dalam salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), “ tutur Slamet tak lupa berterima kasih pada pemerintah, Dinas Koperasi, Dinas Perdagangan, yang telah banyak mendukung dan mempromosikan produk kerajinan tenun ikat Kediri.

Salah satu motif kain tenun ikat Kediri adalah jenis harmoni Kediri, “ filosofinya adalah kita harus menjalin harmoni sekaligus menjaga tradisi, “ ujar Slamet. Rasa bangga tak bisa ditutupi manakala ia turut menyampaikan bahwa produk kerajinan tenun ikat pernah dipakai oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo. Tidak hanya itu, aktor Korea Song Kang sempat viral ketika tampil melokal dalam balutan tenun ikat saat didaulat sebagai brand ambassador sebuah produk asal Indonesia pada awal tahun 2022.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....