Kekeringan Mengintai, Kabupaten Kediri Jaga Produksi Pangan Tetap Aman

  • 06 Okt 2026 14:34 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Ancaman kekeringan di tengah puncak musim kemarau 2026 mendorong Kabupaten Kediri memperkuat langkah menjaga produksi pangan tetap aman. Selain mengoptimalkan infrastruktur pengairan, pemerintah daerah juga mendorong penyesuaian pola tanam agar keterbatasan air tidak berujung pada penurunan produksi maupun gagal panen.

Di tingkat petani, dampak keterbatasan air mulai dirasakan di sejumlah lahan. Salah satunya di Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Petani setempat, Qodaru, mengatakan debit air yang mengalir ke lahan pertanian memang berkurang selama kemarau.

Qodaru menyebut kondisi tersebut membuat petani mengubah komoditas yang ditanam. Sejak Agustus lalu, sebagian petani memilih menanam jagung karena kebutuhan airnya dinilai lebih rendah dibandingkan padi.

“Karena hujan sudah tidak ada, kita beralih ke jagung semua. Kendala yang sekarang ya kurang air karena kemarau. Aliran dari sungai di sini untuk mengairi sawah debitnya berkurang. Hanya sekitar 25 persen yang kena aliran air,” ujar Qodaru, saat ditemui RRI, Selasa, 6 Oktober 2026.

Untuk mempertahankan tanaman yang sudah ditanam, petani kemudian memanfaatkan sumber air alternatif. Pompanisasi dan memanfaatkan bantuan sumur submersible dari pemerintah setempat agar lahan tetap mendapatkan pasokan air meski debit sungai menurun. “Untuk solusinya kita sudah menerapkan pompanisasi, pembuatan sumur bor, supaya sawah ini tetap dialiri air,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Rini Pudyastuti, mengatakan hingga saat ini belum terdapat laporan kekeringan yang berdampak pada puso atau gagal panen di wilayah Kabupaten Kediri. Kondisi ini, menurutnya, salah satunya didukung berbagai upaya penyediaan sumber air untuk pertanian.

“Alhamdulillah sampai hari ini tidak ada laporan kekeringan. Tidak ada laporan puso. Ini adalah salah satu upaya kita juga yang sudah selama beberapa tahun ini membangun sumur submersible untuk pengairan sawah,” jelas Rini.

Menurut Rini, sepanjang 2026 pemerintah daerah sudah membangun lebih dari 500 titik sarana irigasi. Infrastruktur tersebut mencakup dam parit, irigasi perpompaan atau sumur submersible, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, normalisasi saluran, hingga irigasi perpipaan.

Dari sisi ketersediaan pangan, Rini memastikan kondisi Kabupaten Kediri masih aman. Produksi sejumlah komoditas utama, terutama padi dan jagung, masih mampu memenuhi kebutuhan daerah. Bahkan, produksi padi disebut masih mengalami surplus, “Stok pangan, stok beras, apalagi Bulog juga aman. Secara produksi kita juga surplus. Bahkan kita sudah bisa mengirim beras dan bekerja sama dengan beberapa daerah. Untuk jagung, kita juga termasuk penyumbang pakan ternak terbesar,” jelasnya.

Rini menyebut produksi padi Kabupaten Kediri masih mencatat surplus sekitar 80 ribu hingga 100 ribu ton setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Kondisi tersebut menjadi salah satu modal daerah untuk menjaga pasokan pangan di tengah tekanan musim kemarau.

Meski demikian, pemerintah daerah tidak ingin petani memaksakan penanaman padi di lahan yang tidak memiliki sumber air memadai. Penyesuaian kalender tanam dinilai penting karena puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November, “Kalau yang sudah punya sumber air, silakan tanam padi. Tetapi kalau memang tidak ada sumber air, kita sarankan menanam komoditas yang lebih toleran terhadap kekurangan air, misalnya jagung atau ubi-ubian. Kalau padi dipaksakan, nanti gagal dan petani yang menanggung risikonya,” jelas Rini.

Pemetaan juga dilakukan terhadap wilayah yang memiliki risiko kekeringan lebih tinggi. Rini menyebut sejumlah lahan di wilayah barat sungai, khususnya lahan tadah hujan di Mojo, Semen, Tarokan, dan Grogol, menjadi kawasan yang perlu mendapat perhatian lebih.

Petani juga didorong memilih varietas padi yang lebih toleran terhadap kondisi kekurangan air apabila tetap menanam padi pada musim dengan curah hujan terbatas. Selain itu, komunikasi dengan penyuluh pertanian lapangan dinilai penting untuk menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi masing-masing lahan.

“Jangan merasa sendiri ketika menghadapi kekeringan yang berkepanjangan. Dinas pertanian akan selalu siap membantu petani. Yang penting komunikasinya diperkuat, karena persoalan yang muncul di setiap lokasi bisa berbeda-beda,” ucap Rini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....