Menko Pangan Zulkifli Hasan Bakar Semangat Wisudawan UNWHA Jombang

  • 04 Okt 2026 17:02 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID Jombang - Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan, hadir sebagai pembicara utama dalam acara wisuda dan pertemuan sivitas akademika Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWHA) Jombang, Jawa Timur.

Kehadiran tokoh nasional tersebut disambut hangat oleh ratusan wisudawan, orang tua, serta jajaran pimpinan rektorat yang memenuhi gedung pertemuan kampus. Dalam orasi ilmiahnya, Zulkifli Hasan memilih untuk menghindari gaya pidato formal yang monoton dan lebih memilih berinteraksi secara langsung.

Suasana acara langsung mencair ketika Menko Pangan menantang para wisudawan untuk maju ke atas panggung guna menguji mental dan keberanian mereka. Menurutnya, kecerdasan intelektual dan ijazah sarjana tidak akan berarti banyak tanpa adanya keberanian untuk mengambil tindakan nyata.

"Saya mau tes ada yang berani enggak maju. Kalau ada boleh maju satu, dua. Silahkan," ucap Zulkifli Hasan mengawali interaksinya dengan para lulusan baru.

Dari ratusan wisudawan yang hadir, beberapa mahasiswa dengan penuh percaya diri akhirnya maju ke hadapan audiens untuk menjawab tantangan tersebut. Zulkifli Hasan kemudian memberikan apresiasi khusus kepada mereka dan menegaskan bahwa kunci nomor satu untuk meraih kesuksesan dalam hidup adalah nyali serta keberanian.

"Jadi kunci nomor satu kalau mau sukses dalam hidup, nomor satu catat: berani," tegasnya di hadapan para peserta wisuda.

Lebih lanjut, Zulkifli Hasan menekankan bahwa kekurangan dalam hal pengetahuan atau keterampilan teknis masih bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Namun, mental pemberani harus dibangun sejak dini agar seseorang mampu bersaing dan merebut peluang di masyarakat.

"Orang jawab bisa atau tidak, yang enggak bisa bisa belajar. Yang enggak tahu bisa tanya. Tapi berani, berani itu susah," tambahnya memberikan motivasi mendalam.

Sebagai ilustrasi nyata, Zulkifli Hasan membandingkan perjalanan hidup para tokoh publik nasional yang sukses berkat keberanian mereka mengambil risiko politik dan sosial. Ia menyebut nama-nama besar seperti Wakil Gubernur Jawa Timur hingga perjalanan kariernya sendiri sebagai menteri di kabinet.

"Sehebat apapun saudara - saudara, kalau enggak berani, enggak bisa jadi seperti Emil Dardak, jadi wakil gubernur. Sehebat apapun saudara - saudara, enggak akan susah jadi Menko Pangan seperti Zulkifli Hasan kalau tidak berani," ungkapnya.

Tidak hanya berbicara soal motivasi karier, Zulkifli Hasan juga membagikan kisah masa kecilnya yang penuh perjuangan di sebuah desa terpencil di Lampung Selatan. Ia mengenang masa-masa sulit ketika harus berjalan kaki berkilometer jauhnya demi bisa belajar mengaji di bawah keterbatasan fasilitas desa.

"Di kampung saya, zaman saya kecil enggak ada pondok, listrik tidak ada, jalannya jalan log, log itu jalan kayu, jalan angkutan kayu atau jalan bekas jalur truk pengangkut kayu (HPH)," kenangnya menceritakan masa lalunya.

Berbekal pengalaman hidup yang keras, tempaan mental dari orang tua, serta kedisiplinan di lingkungan pesantren, ia kemudian merantau ke Jakarta dengan modal ijazah yang sangat sederhana. Perjalanan panjang dari seorang perantau hingga menjadi pengusaha sukses dan pejabat tinggi negara ia ceritakan untuk membakar semangat optimisme para lulusan UNWHA.

"Pendidikan itu menurut saya ada dua, satu yang formal seperti ini, ada juga pendidikan kehidupan," ujar Zulkifli Hasan menjelaskan filosofi hidupnya.

Memasuki topik utama bidang tugasnya, Menko Pangan kemudian memaparkan arah kebijakan strategis pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai swasembada pangan. Ia menegaskan bahwa kedaulatan pangan adalah menyangkut marwah dan kehormatan seluruh rakyat serta bangsa Indonesia.

"Kenapa harus swasembada pangan ? Swasembada itu kehormatan. Kehormatan siapa? Kehormatan saya, kehormatan keluarga saya, kehormatan Indonesia, kehormatan petani Indonesia," tegasnya dengan penuh semangat.

Zulkifli Hasan juga menyoroti tantangan besar terkait rendahnya tingkat produktivitas dan kesejahteraan petani serta nelayan lokal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Ia membeberkan perbandingan biaya produksi dan efisiensi pertanian padi serta komoditas gula di dalam negeri dengan negara seperti Vietnam, Thailand, dan India.

"Untuk dapat 1 kilo beras, kita ongkosnya Rp14.000 di Jombang. Vietnam enggak pakai doa, enggak pakai ngaji, untuk dapat 1 kilo beras ongkosnya Rp3.800," jelasnya memaparkan data produktivitas.

Di sektor kelautan, ia memaparkan bahwa nilai tukar nelayan masih memerlukan intervensi kebijakan yang serius agar mereka tidak terus-menerus terjebak dalam kategori kemiskinan ekstrem. Pemerintah berkomitmen penuh untuk membenahi sektor ini melalui mekanisasi, teknologi modern, serta subsidi tepat sasaran agar nelayan Indonesia bisa hidup makmur.

"Nelayan kita kalau enggak dikasih beras oleh pemerintah, enggak dikasih bantuan tunai, enggak makan, enggak bisa sekolah anaknya," imbuhnya prihatin.

Menutup pemaparannya, Zulkifli Hasan berpesan kepada para lulusan UNWHA agar senantiasa optimis, berprasangka baik kepada Allah SWT, serta menanamkan cita-cita setinggi-tingginya. Ia meyakini bahwa lulusan kampus yang membawa nama besar Mbah Wahab Hasbullah ini memiliki bekal ilmu yang cukup untuk membawa perubahan positif bagi kemajuan bangsa.

"Jadi saudara-saudara sekalian, saya kira ilmu saudara jauh lebih tinggi sudah lulus wisuda. Oleh karena itu sekali lagi, saudara-saudara terbuka luas pengabdian, terserah saudaramu apa," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....