Bangga Pancasila Menggema di Dunia, Warga Gelar Tasyakuran di Persada Soekarno

  • 01 Okt 2026 18:16 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Momentum bersejarah pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB 66 tahun silam kembali digaungkan dari Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Momentum bersejarah pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB 66 tahun silam kembali digaungkan dari Kediri. Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok bersama Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia menggelar Tasyakuran Hari Pancasila di Dunia di Rumah Cagar Budaya Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Peringatan ini digelar untuk mengenang 30 September 1960, saat Presiden Soekarno memperkenalkan nilai-nilai luhur Pancasila di podium tertinggi dunia melalui pidato monumental berjudul 'To Build the World Anew'.

Rangkaian acara berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Kegiatan diawali dengan Doa Lintas Agama, dilanjutkan Kirim Doa untuk Pahlawan Revolusi, menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza, pembacaan Teks Pancasila dan UUD 1945, hingga pengucapan Sumpah Jati Diri Bangsa.

Ketua Panitia Penyelenggara, R.M. Kushartono, S.M., menyatakan, pentingnya memperingati momentum 30 September 1960 sebagai pemantik rasa percaya diri bangsa, khususnya generasi muda.

"Hampir seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, hari ini mungkin tidak ingat bahwa tanggal 30 September 1960 adalah hari yang sangat membanggakan bangsa Indonesia. Pada hari itu, dasar negara Pancasila diusung oleh Presiden kita di podium tertinggi dunia, Sidang Umum PBB," ungkap Kushartono, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurutnya, pidato tersebut memiliki makna internasional yang luar biasa karena Soekarno tidak hanya berdiri atas nama Indonesia, tetapi juga mewakili bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

"Yang luar biasa, waktu itu Bung Karno berdiri bukan hanya atas nama Indonesia, tetapi mewakili bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Pidato tersebut mendapat sambutan luar biasa secara internasional. Jika hari ini kita ingin generasi muda memiliki kebanggaan nasional bahkan internasional, maka momentum ini sangat penting untuk selalu kita syukuri dan peringati," tambahnya.

Apresiasi senada disampaikan unsur pemerintah setempat. Bhabinkamtibmas Desa Pojok, Kristanto, yang turut hadir, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.

"Atas nama pemerintah desa, saya sangat mengapresiasi acara tasyakuran mengenang pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 ini. Ini adalah kegiatan yang sangat bagus untuk menumbuhkan rasa bangga kita memiliki dasar negara Pancasila," kata Kristanto.

Memasuki sesi sarasehan kebangsaan, dua pemantik dihadirkan, yakni guru dan penggiat sejarah Kabupaten Kediri, Hendro Wijanarko, serta anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Juwaini.

Hendro menekankan, Pancasila sebagai dasar negara yang mampu menyatukan kebinekaan dan bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman.

"Pancasila adalah dasar negara yang sangat luar biasa karena mampu menyatukan kebinekaan Indonesia. Pancasila itu statis sekaligus dinamis, mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan selalu relevan kapan pun serta di mana pun. Kita wajib bangga dan menjaga Pancasila untuk selama-lamanya," kata Hendro.

Sementara, Juwaini mengatakan, konsistensi Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok dalam menggali narasi sejarah yang kerap luput dari perhatian publik.

"Perjuangan panjang Ndalem Pojok dalam mengkaji dan menyiarkan pentingnya mensyukuri momentum sejarah ini luar biasa. Banyak hal yang luput dari perhatian masyarakat mampu diungkap di sini, seperti penegasan 17 Agustus sebagai Kemerdekaan Bangsa Indonesia, 18 Agustus Berdirinya NKRI, hingga 30 September Pancasila Menggema di PBB," kata Juwaini.

Ia menambahkan, perjuangan mengusung Pancasila di Dunia telah digerakkan secara istiqomah oleh Ndalem Pojok sejak 2019, atau sudah berjalan selama tujuh tahun dan membutuhkan proses panjang.

Rangkaian peringatan kemudian ditutup dengan pembacaan doa tasyakuran dan ramah tamah selamatan sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Pancasila yang tidak hanya menaungi Indonesia, tetapi juga menawarkan nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan bagi perdamaian dunia.

Terpisah, mahasiswi asal Kediri, Diah Ayu, mengaku siap melaksanakan slogan Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Menurutnya, sebagai anak muda harus memiliki semangat besar dalam mengenang perjuangan bangsa.

"Sebagai anak muda, kita harus memiliki semangat besar dalam mengenang perjuangan bangsa dan tidak melupakan sejarah," kata Diah Ayu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....