Produksi Menyusut, Petani Tembakau Jombang Hadapi Anomali Musim
- 28 Sep 2026 22:41 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang - Petani tembakau di Kabupaten Jombang menghadapi kondisi musim yang berdampak pada penurunan produksi hingga 50 persen. Cuaca yang cenderung kering membuat kualitas daun relatif baik, tetapi pasokan air yang terbatas menyebabkan hasil panen tidak mampu mencapai capaian musim sebelumnya.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang, Lasiman, mengatakan produksi tembakau tahun ini berada di kisaran 10 hingga 15 ton per hektare. Angka tersebut turun dibandingkan musim sebelumnya yang masih mampu mencapai 18 hingga 20 ton per hektare.
“Harga tembakau memang cukup bagus dan lumayan, tetapi hasil produksinya mengalami penurunan,” kata Lasiman, Senin, 28 September 2026.
Penurunan produksi terjadi ketika kondisi cuaca kering membuat tanaman mengalami keterbatasan air, meski di sisi lain cuaca kering sebenarnya juga memberikan dampak positif terhadap kualitas daun tembakau.
Kondisi tersebut membuat petani menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya menguntungkan. Kualitas daun dapat terjaga, tetapi volume produksi yang diperoleh lebih rendah dibandingkan musim sebelumnya.
Untuk tembakau Jinten, harga daun basah saat ini berada di sekitar Rp6.000 per kilogram. Sementara harga tembakau rajangan berkisar Rp38.000 hingga Rp41.000 per kilogram, tergantung kualitas.
Secara umum, harga daun tembakau basah kualitas atas mencapai sekitar Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram. Kualitas sedang berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram, sedangkan kualitas bawah sekitar Rp4.000 per kilogram.
Harga tembakau rajangan juga tercatat relatif lebih baik. Rajangan non-gula berada di sekitar Rp54.000 per kilogram, sedangkan rajangan dengan gula berkisar Rp40.000 hingga Rp42.000 per kilogram.
Namun, kenaikan harga tersebut harus berhadapan dengan penurunan volume panen. Berdasarkan perbandingan hasil produksi, penurunan tahun ini berada di kisaran 25 hingga 50 persen. “Kalau musim sebelumnya, hasil produksi bisa mencapai sekitar 18 sampai 20 ton per hektare,” ujar Lasiman.
Selain persoalan cuaca, petani juga menghadapi biaya perawatan yang relatif tinggi. Salah satunya berasal dari kebutuhan pupuk, karena petani tembakau tidak mendapatkan pupuk bersubsidi dan harus membeli pupuk nonsubsidi.
Harga pupuk urea nonsubsidi saat ini berada di kisaran Rp215.000 per sak. Kondisi tersebut turut menjadi beban biaya produksi ketika hasil panen yang diperoleh petani mengalami penurunan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....