Perpusda Mastrip Gandeng RAKi Ciptakan Generasi Literat lewat Budaya Membaca
- 22 Sep 2026 11:50 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Perpustakaan Daerah Mastrip Kabupaten Kediri menggandeng komunitas Read Aloud Kediri Raya (RAKi) untuk membangun budaya membaca sejak usia dini sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi literat. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui rangkaian Bulan Kunjung Perpustakaan 2026 yang menyasar anak-anak tingkat TK dan RA, pada Selasa, 22 September hingga 30 September 2026, di Perpusda Mastrip Kabupaten Kediri.
Anak-anak dikenalkan dengan perpustakaan sekaligus diajak mengikuti aktivitas literasi yang diarahkan untuk membangun kedekatan dengan buku dan kegiatan membaca. Pustakawan Ahli Muda Perpusda Mastrip Kabupaten Kediri, M. Hendro, mengatakan pengenalan perpustakaan sejak usia dini menjadi salah satu langkah untuk membangun kebiasaan membaca. Menurutnya, masih terdapat anak-anak yang belum mengenal maupun berkunjung ke perpustakaan.
“Kegiatan ini merupakan agenda tahunan. Tahun ini kami berkolaborasi dengan komunitas literasi RAKi untuk mengenalkan perpustakaan kepada anak-anak, terutama mereka yang belum pernah berkunjung ke perpustakaan,” ujar Hendro.

Ia menjelaskan, sasaran kegiatan tahun ini difokuskan pada anak TK dan RA. Pada kegiatan berikutnya di bulan Oktober 2026, sasaran akan digilir ke jenjang sekolah dasar sehingga pengenalan perpustakaan dapat menjangkau kelompok usia yang lebih luas.
Selain membaca, Perpusda Mastrip juga menyiapkan sejumlah aktivitas literasi lain, seperti mendongeng dan kegiatan berbasis kreativitas. Hendro menyebut program inklusi sosial juga tengah dipersiapkan bersama komunitas literasi untuk memperluas bentuk kegiatan yang dapat diakses masyarakat.
“Tantangan literasi saat ini adalah bagaimana kami terus mencari dan mengakomodasi minat pengunjung. Digitalisasi juga menjadi bagian yang kami lakukan. Aplikasi digitalisasi di Perpusda Mastrip sudah tersedia, meskipun sarana dan prasarananya masih perlu diperkuat,” katanya.
Menurut Hendro, perkembangan teknologi digital membuat perpustakaan perlu menyesuaikan layanan dengan kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan dalam mengatur waktu dan pelaksanaan berbagai program literasi di lapangan.
Perpusda Mastrip tetap melakukan pembaruan dan pengadaan koleksi buku setiap tahun. Hingga saat ini, koleksi di Perpusda Mastrip Kabupaten Kediri mencapai sekitar 14 ribu judul buku yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sementara itu, Ketua RAKi, Sillvia Kusuma Wardani, mengatakan kolaborasi dengan Perpusda Mastrip menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya membaca nyaring atau Read Aloud kepada anak-anak. Tahun ini, RAKi melibatkan tujuh sekolah RA dalam rangkaian kegiatan tersebut.
“Di kegiatan ini kami memang menyasar anak-anak usia dini, karena kebiasaan membaca perlu dibangun sejak awal. Melalui Read Aloud atau membaca nyaring, kami ingin mendorong keluarga, sekolah, dan masyarakat agar terbiasa membacakan buku kepada anak,” kata Sillvia.

Menurut Sillvia, kebiasaan membaca nyaring sejak dini dapat membantu membangun kedekatan anak dengan buku. Pembiasaan tersebut juga diharapkan mendorong anak untuk memiliki ketertarikan terhadap membaca dan berkembang menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Sillvia menilai perkembangan literasi anak di Kediri mulai menunjukkan peningkatan. Sejumlah komunitas telah mendirikan Taman Baca Masyarakat, sementara sekolah juga memiliki dukungan fasilitas literasi melalui program yang tersedia di masing-masing jenjang pendidikan, seperti Pojok Membaca.
Meski demikian, ia menilai keberadaan fasilitas tersebut masih perlu diikuti dengan pemanfaatan yang lebih maksimal. Salah satunya dengan membiasakan kegiatan membaca atau membacakan buku secara rutin di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia perlu terus dimaksimalkan. Kami juga mendorong agar kegiatan membacakan buku dilakukan secara rutin, bahkan kalau bisa setiap hari,” ujarnya.
Di tengah perkembangan teknologi, Sillvia menyebut penggunaan gawai dan derasnya arus informasi digital menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama. Menurutnya, keluarga tetap memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan membaca anak. “Perkembangan teknologi memang menjadi tantangan bersama. Namun, kebiasaan membacakan buku tetap perlu dipertahankan. Jika tidak memiliki buku fisik, masyarakat bisa memanfaatkan buku digital gratis atau datang langsung ke perpustakaan daerah,” kata Sillvia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....