Masyarakat Sering Abai pada Resiliensi Bencana

  • 20 Sep 2026 17:57 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- Relawan Nasional Penanggulangan Bencana (RNPB), Lilik Handayani, menyebut masyarakat sering abai terhadap resiliensi bencana, sekalipun yang tinggal di wilayah rawan bencana. Padahal sejatinya, Indonesia berada di tengah bayang-bayang bencana berulang dan ekstrem. Fenomena ini terlihat dari komunitas masyarakat yang memiliki minimnya kesiapan sata bencama terjadi, seperti gempa, banjir, puting beliung, erupsi, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini menyelimuti banyak wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

"Indonesia itu supermarket bencana. Semua potensi bencana ada di sini. Tapi sayangnya masyarakat kita memilki kesadaran rendah terhadap resiliensinya. Padahal mereka juga tinggal di wilayah rawan bencana. Inilah yang menyebabkan resiko dampak bencana biasanya tinggi di Indonesia," kata Lilik, kepada RRI, Minggu, 20 September 2026.

Rendahnya literasi kebencanaan terhadap masyarakat dianggapnya, sebagai hal yang harus dibenahi. Pembangunan desa tangguh bencana (tagana) juga harus lebih digiatkan kembali, sehingga tidak menjadi program rutinan yang direalisasikan apabila sudah terjadi bencana. Pemerintah juga diminta merujuk pada peta rawan bencana di setiap daerah supaya stimulasi dan kebijakannya tepat.

"Fokus penanganan bencana itu ada 3, pertama pra bencana, kedua saat bencana, dan ketiga adalah pasca bencana. Ketiganya harus berjalan bersama beriringan supaya kita yang tinggal di wilayah rawan bencana mengetahui apa dan bagaimana yang harus dilakukan. Jika bisa, kita boleh usul ke pemdanya, bupati atau wali kota, sinergi apa yang paling dibutuhkan saat ini," ucap Lilik.

Ia juga menyoroti, tumpang tindik kebijakan dan beda respon atau kesigapan antara daerah dan pusat yang terkadang tidak sejalan. Alhasil penanganan bencana bisa molor dan korban bencana tudak segera mendapatkan akses terbaik dan aman. Masalah klasik ini, imbuhnya, menjadi sangat pelik apabila terjadi bencana mendadak dalam skala besar.

"Beda komando, tumpang tindih kebijakan, saluran bantuan, misskomunikasi, itu masalah klasik ya. Hal pertama jika tidak segera ada penanganan ya kita terjunkan relawan, dengan alat seadanya. Paling utama bagaimana menciptakan ruang aman bagi lansia,anak/balita/bayi, dan ibu hamil" ujarnya.

Ditambahkanya, semua desa harus punya posko tetap, dana siaga desa, dan pelatihan rutin bagi warga setempat. Ini akan menjadi bukti ketangguhan yang sesungguhnya. Pencegahan berbasis warga juga dapat digiatkan dalam kerja bakti, siskamling bencana, dan peta rawan yang terus di perbarui. Tanpa perubahan perilaku masyarakat dari abai menjadi siaga, siklus duka terhadap bencana akan terus berulang setiap tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....