Mencari yang Halal, Menjemput yang Berkah, Menjauhi yang Haram
- 17 Sep 2026 06:26 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Sebagai seorang muslim kita wajib untuk mencari pekerjaan yang halal, menjemput yang berkah, dan menjauhi yang haram. Jika kita dapat melakukannya maka keluarga kita yang menikmati hasil jerih payah kita akan selalu diberkahi Allah SWT.
Seperti apa yang disampaikan oleh para alim, ulama, masyayikh, dan orang tua kita bahwa dalam kehidupan itu harus ada yang dicari dan harus ada yang ditinggalkan. Sesuatu yang kita cari adalah kehalalan dan yang ditinggalkan tentu hal-hal yang diharamkan.
Dalam kesempatan Kajian Mutiara Pagi RRI Kediri, Rabu, 16 September 2026, Ustaz Mohamad Lutfi Ansori selaku Khodim PP. Darussalam Karangtengah, Brumbung - Kediri menjelaskan mengapa kita harus mencari yang halal dan menjauhi yang haram.
“Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan umat muslim memberikan contoh apa yang menjadi keharusan kita yaitu rida Allah SWT dan apa yang harus kita tinggalkan adalah murka Allah SWT. Untuk bisa berada pada tujuan itu maka ada rambu-rambu yang perlu kita ikuti agar kita terselamatkan. Dalam mengetahui mana yang halal dan yang haram kita harus belajar, mengetahui ilmunya dan bertanya pada ahlinya.” ujar Ustaz Lutfi.
Ia juga menyampaikan Nabi Muhammad SAW memberikan pesan kepada seluruh umatnya tentang pentingnya halal dan haram dalam sebuah kitab bernama Washiyatul Mushtofa yang berbunyi ya ali, man akala syubhat isytabaha 'alaihi dinuhu, wa azlamal qalbuhu artinya Wahai Ali, barangsiapa yang memakan perkara syubhat, maka agamanya akan menjadi syubhat dan hatinya akan menjadi gelap.
Maka para ulama jaman dahulu benar-benar mengikuti apa yang di anjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, jangankan haram, yang syubhat atau masih ragu dijauhi oleh para ulama. Bagi kita yang masih sering merasa doa kita tidak mudah di istijabah Allah SWT, doa kita sering meleset dari permintaan, maka kita harus koreksi diri terlebih dahulu.
“Dari apa yang kita panjatkan namun tidak sampai harus muhasabah diri, adakah yang keliru dalam diri kita. Kita ibaratkan sebagai kendaraan yang sering kita gunakan dengan konsumsi bahan bakar yang dianjurkan agar dapat kita gunakan, namun pada suatu kondisi kita mengisinya dengan air maka kendaraan kita tidak dapat bergerak.” ungkapnya.
Menjadi perhatian bagi kita jika rezeki yang didapatkan dengan cara yang haram namun diberikan kepada keluarga, “Tentunya akan berdampak jika kita memberikan rezeki yang haram kepada keluarga, ini yang patut untuk diperhatikan bagi orang tua.” jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....