Museum MINHA Jaga Warisan Intelektual Ulama lewat Digitalisasi
- 07 Sep 2026 16:29 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang – Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) di Kabupaten Jombang mendorong pelestarian warisan intelektual ulama melalui digitalisasi naskah keislaman. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pengetahuan yang tersimpan dalam naskah-naskah lama, yang rentan mengalami kerusakan seiring bertambahnya usia.
Kepala Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari, Mujiburrohman, mengatakan naskah peninggalan ulama memiliki nilai penting karena tidak hanya menjadi bukti sejarah, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan rekam jejak intelektual dari masa lalu. Menurutnya, kondisi fisik naskah yang terus mengalami penurunan akibat faktor usia menjadi salah satu alasan perlunya dilakukan dokumentasi dalam bentuk digital.
Dengan demikian, isi naskah tetap dapat dimanfaatkan meskipun kondisi dokumen aslinya semakin rentan. “Naskah-naskah lama pada akhirnya akan mengalami kerusakan. Karena itu, digitalisasi diperlukan sebagai upaya penyelamatan agar isi dan pengetahuan yang ada di dalamnya tetap bisa digunakan,” ujar Mujiburrohman, Senin, 7 September 2026.
Ia menambahkan, pelestarian naskah seharusnya tidak hanya berorientasi pada upaya mempertahankan bentuk fisiknya. Kandungan pengetahuan yang terdapat di dalamnya juga perlu dipastikan tetap dapat dipelajari oleh generasi saat ini maupun mendatang.
Digitalisasi dinilai dapat menjadi salah satu jembatan untuk mencapai tujuan tersebut. Dokumentasi dalam format digital memungkinkan informasi dalam naskah tetap tersedia untuk pembelajaran dan penelitian, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan naskah fisik.
Mujiburrohman juga menilai keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan intelektual tersebut. Mahasiswa dan mahasantri dinilai perlu memahami nilai naskah keislaman sekaligus memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan pengetahuan yang diwariskan para ulama.
Ia berharap generasi muda tidak berhenti pada pemahaman bahwa naskah merupakan benda bersejarah. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu melihat naskah sebagai sumber pengetahuan yang perlu dirawat dan terus dimanfaatkan.
“Kami berharap peserta tidak hanya memahami pentingnya keberadaan naskah, tetapi juga tumbuh kepedulian untuk ikut mempertahankan dan melestarikan pengetahuan yang tersimpan di dalamnya,” katanya.
Upaya pelestarian tersebut melibatkan perspektif dari bidang turats, tradisi keilmuan Islam, kepustakawanan, hingga teknik konservasi dan digitalisasi. Pendekatan tersebut diperlukan agar proses penyelamatan naskah tidak hanya mempertahankan dokumen sebagai benda, tetapi juga menjaga informasi yang terkandung di dalamnya.
Melalui digitalisasi, Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari berupaya memastikan warisan intelektual ulama tetap dapat diakses dan dipelajari generasi berikutnya. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk menjaga kesinambungan pengetahuan Islam yang tersimpan dalam naskah-naskah lama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....