Tak Hanya Pahlawan Nasional, Sejarah Lokal Perlu Dikenalkan kepada Generasi Muda
- 27 Agt 2026 12:00 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Peringatan dan pembelajaran mengenai pahlawan selama ini masih cenderung berpusat pada tokoh-tokoh yang telah dikenal luas melalui buku sejarah nasional. Padahal, di berbagai daerah terdapat tokoh lokal yang memiliki kontribusi penting terhadap masyarakat dan daerahnya, sehingga kisah perjuangannya juga perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri, Gusti Garnis, atau yang akrab disapa Garnis, mengatakan bahwa pemahaman mengenai pahlawan tidak seharusnya berhenti pada nama-nama yang tercantum dalam buku pelajaran. Menurutnya, sejarah secara luas juga mencakup tokoh-tokoh lokal yang memiliki peran penting dalam perjalanan masyarakat di daerah masing-masing.
Garnis menjelaskan, tidak semua tokoh dapat begitu saja memperoleh gelar pahlawan nasional. Terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain merupakan warga negara Indonesia yang berjuang di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki moral dan keteladanan, serta memenuhi sejumlah syarat khusus seperti pernah memimpin dan melakukan perjuangan, tidak pernah menyerah, dan melakukan pengabdian.
Namun, menurut Garnis, keberadaan tokoh lokal tidak selalu berkaitan dengan pemberian gelar pahlawan nasional. Seorang tokoh dapat memiliki arti penting bagi daerah dan masyarakatnya karena kontribusi yang diberikan dalam lingkungan lokal. Karena itu, masyarakat perlu mengenali sejarah di sekitarnya, termasuk perjuangan tokoh yang mungkin tidak banyak dibahas dalam narasi sejarah nasional.
Ia menilai dominasi narasi sejarah nasional dalam kurikulum membuat sejarah lokal berpotensi kurang mendapatkan ruang. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi berbagai pihak untuk menghadirkan media yang dapat memfasilitasi generasi muda dalam mengenal sejarah di lingkungannya.
Pengenalan sejarah lokal dapat dilakukan melalui berbagai cara. Tidak hanya melalui tulisan sejarah, tetapi juga melalui konten digital, video sejarah, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Di lingkungan sekolah, misalnya, siswa dapat diberikan tugas untuk mencari kisah perjuangan tokoh lokal, melakukan kunjungan ke tempat bersejarah, kemudian menyajikan hasil temuannya dalam bentuk tulisan maupun video singkat.
Garnis menegaskan bahwa upaya mengenalkan tokoh lokal tetap harus dilakukan secara kredibel. Penelusuran sejarah tidak cukup hanya mengandalkan satu sumber. Peneliti atau siswa perlu mengeksplorasi berbagai sumber, menelusuri arsip, membandingkan informasi, kemudian melakukan interpretasi sebelum menyusun sebuah narasi sejarah.
Menurutnya, narasi sejarah yang baik juga tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa pahlawan nasional atau tokoh lokal yang dimiliki suatu daerah. Masyarakat perlu diajak memahami mengapa seorang tokoh dianggap penting dan nilai-nilai apa yang dapat diteladani dari perjuangannya.
Garnis juga menekankan bahwa sejarah nasional dan sejarah lokal bukanlah dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya saling berkaitan dan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai perjalanan bangsa. Karena itu, mempelajari sejarah tidak harus selalu dilakukan dengan menghafalkan nama dan tahun, tetapi juga dapat melalui diskusi, penelitian, kunjungan, serta kegiatan eksplorasi sejarah di lingkungan sekitar.
Dengan cara tersebut, sejarah diharapkan tidak hanya menjadi materi pelajaran di dalam kelas, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Generasi muda dapat memahami bahwa sejarah juga berada di sekitar mereka dan memiliki hubungan dengan kehidupan yang mereka jalani saat ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....