Kenali Teknik Cloud Seeding dalam Modifikasi Cuaca

  • 23 Agt 2026 19:20 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- Musim kemarau yang masih akan berlangsung hingga Oktober 2026 dan dampak El Nino yang diprediksi akan berjalan hingga awal tahun 2027, membuat banyak wilayah dan pemerintah menetapkan status siaga dan waspada. Langkah ini dilakukan karena banyaknya potensi bencana kebakaran hutan dan lahan di tengah dinamika atmosfer yang yang menyebabkan suhu udara sangat kering dan panas sepanjang hari tanpa hujan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga kerap melakukan upaya Modifikasi Cuaca guna membuat hujan buatan di daerah rawan bencana Karhutla. Teknik modifikasi cuaca ini menerapkan metode cloud seeding atau penyemaian awan yang dapat memicu hujan lokal. Mengutip dari laman resmi BMKG, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) akan menaburkan bahan kimia seperti garam natrium clorida (NaCI), atau kalsium oksida (CAO) ke dalam awan menggunakan pesawat.

NaCl adalah garam dengan fungsi dna sifat higroskopik yaitu menarik uap air untuk menarik butiaran air ke dalam awan, menggabungkannya menjadi tetesan yang lebih besar. Sementara CaO dapat mengurangi intensitas hujan pada kondisi tertentu dan menghilangkan kabut asap agar proses pembuatan hujan dengan garam NaCl terlaksana dengan baik.

Tahap persiapan dan analisis cloud seeding adalah melalui pantauan cuaca dan radar secara realtime untuk mencari awan potensial, mengukur kondisi atmosfer seperti arah angin, kelembapan, dan suhu, serta menentukan target koordinat titik tabur, dan taget wilayah pendaratan atau pergeseran hujan. Penyamaian dilakukan dengan pesawat udara khusus dengan tinggi semai antara 7000 hingga 11000 kaki.

Tujuan cloud seeding adalah membasahi lahan gambut untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Implementasinya adalah untuk mitigasi bencana. Saat udara naik ke atmosfer, uap air akan mulai berkumpul membentuk awan. Dalam kondisi alamiah, hujan turun ketika tetesan air dalma awan berada dalam kondisi cukup berat. Garam digunakan untuk mempercepat proses kondensasai awan supaya hujan turun lebih cepat.

Manfaat kondensasi bervariasi, tergantung kondisi lokasi yang akan dilakukan penyemaian. Teknik cloud seeding bisa mempercepat curah hujan di lokasi yang lebih terkendali apabila diperlukan untuk menangani atau mencegah perluasna bencana Karhutla. Namun, apabila penyemaian dilakukan di musim hujan, cloud seeding digunakan untuk mengalihkan hujan dari daerah rawan banjir ke daerah yang lebih aman. Sehingga, cloud seeding disebut juga sebagai teknik "memaksa' atau 'dipaksa' untuk mengatur dinamika cuaca pada suatu wilayah.

BMKG memastikan bahan yang terkandung dalam seluruh tahapan Modifikasi Cuaca tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungan,karena menggunakan dosis yang sangat kecil dan larut dalam atmosfer. Modifikasi cuaca bukan “mengendalikan cuaca”, melainkan memanfaatkan pengetahuan ilmiah tentang proses fisika awan untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Di Indonesia, teknik ini sudah dilakukan sejak tahun 1977 saat pemerintahan Presiden Soeharto dan di dampingi ahli TMC dari Thailand.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....