Cinta Tanah Air Bagian dari Iman, Jaga Persatuan Indonesia
- 13 Agt 2026 10:48 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri — Rasa cinta terhadap tanah air merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Sikap tersebut tidak hanya diwujudkan melalui rasa bangga terhadap bangsa, tetapi juga dengan menjaga persatuan, menghormati sesama, serta ikut berkontribusi dalam kebaikan bagi negara. Hal itu disampaikan Ustaz Arwani, pengasuh Pondok Pesantren Mazro’atul Ulum, Kediri.
Ustaz Arwani menjelaskan, kecintaan terhadap tanah air dapat diteladani dari Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW mengungkapkan kecintaannya kepada Kota Makkah sebagai tanah kelahirannya. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Makkah, demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, aku tidak akan meninggalkanmu.”
Menurut Ustaz Arwani, hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki rasa cinta yang kuat terhadap tanah kelahirannya. Karena itu, umat Islam juga semestinya memiliki kecintaan terhadap tanah kelahirannya masing-masing, termasuk Indonesia sebagai tempat hidup, berjuang, dan membangun kehidupan bersama.
Ia mengingatkan, di tengah berbagai ujian yang dihadapi bangsa Indonesia, masyarakat, khususnya generasi muda, harus memiliki ketahanan agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Upaya yang dapat memecah belah persatuan bangsa harus diwaspadai agar tidak menimbulkan konflik dan perpecahan di tengah masyarakat.
“Kalau sekarang untuk kita bisa lebih mencintai Indonesia, jangan sampai terpengaruh, terutama generasi muda kita, oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah bangsa Indonesia ini,” ujar Ustaz Arwani kepada RRI, Kamis, 13 Agustus 2026.
Ia menegaskan bahwa mencintai tanah air bukan berarti harus selalu membenarkan semua kebijakan pemerintah. Masyarakat tetap diperbolehkan, bahkan perlu, bersikap kritis terhadap pemerintah apabila terdapat kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat. Namun, kritik tersebut harus disampaikan dengan cara yang etis, berdasarkan fakta, dan tidak berubah menjadi tindakan anarkis maupun penyebaran fitnah.
Ustaz Arwani juga mengingatkan masyarakat agar menjaga etika dalam menggunakan media sosial. Perbedaan pandangan politik maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah sebaiknya tidak menjadi alasan untuk saling menghina, menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya, atau membuat konten yang dapat memperkeruh suasana. Menurutnya, kebebasan berpendapat harus tetap disertai tanggung jawab.
Lebih lanjut, ia mengingatkan tentang tiga sikap yang dapat dilakukan ketika seseorang melihat kemungkaran. Pertama, apabila memiliki kemampuan, kemungkaran dapat dicegah atau ditegur secara langsung dengan cara yang tepat. Kedua, apabila tidak mampu melakukannya sendiri, seseorang dapat meminta bantuan atau menyampaikannya kepada pihak lain yang memiliki kemampuan untuk menegur. Ketiga, apabila kedua cara tersebut tidak dapat dilakukan, maka cukup mengingkari kemungkaran tersebut dalam hati.
Di tengah berbagai ujian lahir dan batin yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia, Ustaz Arwani berpesan agar kondisi tersebut tidak membuat masyarakat kehilangan rasa cinta kepada tanah air. Menurutnya, kritik, perbaikan, dan kepedulian terhadap persoalan bangsa justru merupakan bagian dari upaya menjaga Indonesia agar menjadi lebih baik.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat kepedulian terhadap sesama, serta menggunakan kebebasan berpendapat secara bijaksana. Kecintaan kepada Indonesia, menurutnya, harus diwujudkan dengan menjaga kedamaian dan persatuan, sekaligus tetap kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....