UBhi Tulungagung Dorong Kemandirian Santri lewat Program SiIMPRINT
- 09 Agt 2026 22:21 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Tulungagung - Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tulungagung mendorong kemandirian ekonomi santri melalui pengembangan Sistem Informasi Inkubator dan Manajemen Printing atau SiIMPRINT di Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa, Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Program tersebut diarahkan untuk membekali santri dengan keterampilan produksi merchandise sekaligus kemampuan mengelola usaha berbasis teknologi digital.
Sebanyak 24 santri mengikuti program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mencakup pelatihan kewirausahaan dan manajemen usaha, desain logo dan branding, produksi merchandise printing, hingga pemanfaatan SiIMPRINT untuk mendukung pengelolaan bisnis.

Selain pelatihan, tim pengabdian UBhi juga menyediakan sejumlah sarana produksi, termasuk peralatan pembuatan merchandise berupa mug dan tumbler. Peralatan tersebut digunakan secara langsung oleh santri dalam praktik produksi. Sejumlah hasil produksi kemudian mulai didata melalui SiIMPRINT sebagai bagian dari persiapan pengembangan dan pemasaran produk.
Anggota tim pengabdian, Joko Iskandar, menjelaskan program tersebut tidak hanya berorientasi pada penyediaan peralatan produksi bagi pesantren. Menurutnya, santri juga perlu dibekali kemampuan mengelola seluruh rangkaian usaha, mulai dari proses produksi, pendataan, hingga membangun identitas produk dan memperkenalkannya melalui kanal digital.
“Program ini tidak sekadar memberikan peralatan kepada mitra, tetapi juga membangun ekosistem usaha. Santri dilatih untuk memproduksi, mengelola, mendata, membangun branding, serta memperkenalkan produk melalui media digital,” ujar Joko Iskandar.
SiIMPRINT sendiri dikembangkan untuk membantu pengelolaan bisnis merchandise printing secara lebih terintegrasi. Sistem tersebut mencakup pengelolaan produk, pelanggan, pesanan, transaksi, proses produksi, monitoring, hingga etalase produk digital. Pengelolaannya juga diarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri oleh pihak pesantren.

Ketua tim pengabdian, Yayak Kartika Sari, mengatakan keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian utama dalam pengembangan inkubator bisnis tersebut. Ia berharap kegiatan produksi dan pengelolaan usaha tetap berjalan setelah pelatihan berakhir sehingga dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus aktivitas ekonomi produktif bagi santri.
“Pelatihan bukan menjadi tahap akhir dari program ini. Kami berharap santri dapat meneruskan proses produksi dan pengelolaan usaha secara mandiri, sehingga inkubator bisnis dapat berfungsi sebagai tempat belajar sekaligus mendukung kegiatan ekonomi produktif di pesantren,” jelas Yayak.
Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari koordinasi dan observasi, sosialisasi, penyediaan sarana produksi, pelatihan, penerapan teknologi, hingga pendampingan dan monitoring. Pihak Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa turut mendukung pelaksanaan kegiatan dengan menyediakan peserta, tempat, serta membantu pengelolaan sarana dan keberlanjutan operasional inkubator bisnis.

Program yang mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat keterampilan santri dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital. Melalui perpaduan kemampuan produksi, kewirausahaan, dan teknologi, santri diharapkan tidak hanya memiliki kesiapan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....