Jenis-jenis Kekeringan dan Dampaknya di Sepanjang Musim Kemarau
- 31 Jul 2026 17:52 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai empat jenis kekeringan yang berpotensi terjadi di sepanjang musim kemarau. Kemarau yang didukung oleh fenomena El Nino membuat dampak yang dirasakan sebagian besar wilayah Indonesia turut mengalami kering ekstrem. Pemerintah juga diminta untuk memantau kondisi wilayahnya guna mencegah resiko bencana yang lebih besar.
Berikut jenis-jenis kekeringan yang perlu dipahami, dikutip dari laman resmi BMKG :
1. Kekeringan Meteorologis
Kondisi ketika curah hujan berada di bawah normal selama satu periode musim. Biasanya kekeringan jenia ini akan terjadi antara 1 hingga 3 bulan.
2. Kekeringan Pertanian
Kondisi ketika kandungan air tanah tidak mencukupi untuk kebutuhan masa tanam. Dampak paling cepat dirasakan oleh para petani seperti petani jagung, padi, atau kedelai. Alhasil banyak petani yamg mengalami gagal panen selama masa kekeringan ini.
3. Kekeringan Hidrologis
Kondisi di mana pasokan air di waduk, sungai, hingga bendungan mengalami penurunan signifikan. Biasnaya terjadi pada 1 hingga 6 bulan pasca mengalami kekeringan meteorologi. Kekeringan jenis ini dapat mengancam masa tanam petani di musim kedua.
4. Kekeringan Sosial Ekonomi
Jenis kekeringan paling berbahaya karena berkaitan langsung terhadap keberlangsungan hidup masyarakat. Ditandai dengan gagal panen massal, harga pangan naik, sulitnya air bersih, hingga migrasi.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus. Sebagian besar musim kemarau di Indonesia diprediksi berlangsung 10 hingga 21 dasarian pada 388 ZOM yang mencakup 47,45 persen luas daratan Indonesia. Pemerintah diharapkan membuat peta daerah rawan bencana sekaligus melengkapi sarana prasana, fasilitas penunjang, dan kesiapan untuk bantuan air bersih atau pompanisasi apabila dibutuhkan.
Untuk di ketahui, berdasarkan data BPBD Tulungagung, terdapat 20 desa di Tulungagung yang mengalami rawan kekeringan pada awal tahun 2026. Sementara hingga Juni 2026, 11 hektar lahan sawah ikut terdampak. Kabupaten Trenggalek juga mengalami hal serupa, hingga Juli 2026, ada 7 kecamatan dan 14 desa yang merasakan kesulitan air bersih.
Melansir dari akun resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyampaiakn tiga rekomendasi langkah tepat minimalisir dampak kekeringan yaitu penguatan sistem peringatan dini kekeringan, memperluas teknologi konservasi air sumur resapan, dan diversifikasi tanaman yang tahan di musim kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....