Pengembangan Desa SIGAP, Permudah Evakuasi Bencana di Wilayah Blank Spot
- 25 Jul 2026 13:30 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Upaya memperkuat mitigasi bencana di daerah dengan keterbatasan jaringan komunikasi mendorong mahasiswa Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri mengembangkan aplikasi Desa SIGAP (Sistem Siaga Bencana).
Inovasi tersebut menghadirkan sistem peringatan dini banjir dan tanah longsor yang tetap dapat beroperasi tanpa koneksi internet, sehingga diharapkan mampu mempercepat penyebaran informasi saat kondisi darurat.
Penggagas Desa SIGAP, Ilham Khefi Ramadhanu, mengatakan sistem tersebut memanfaatkan teknologi Multi Node Mesh LoRa yang memungkinkan komunikasi antarnode tetap berlangsung meski berada di wilayah tanpa akses internet. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan yang masih banyak dijumpai di kawasan rawan bencana, terutama ketika infrastruktur komunikasi terganggu akibat bencana.
"Desa SIGAP kami rancang sebagai sistem siaga bencana dari hulu hingga hilir yang tetap bisa mengirimkan peringatan dini dan mendukung proses evakuasi masyarakat tanpa bergantung pada jaringan internet," ujar Ilham, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia menjelaskan, Desa SIGAP tidak hanya berfungsi memantau potensi banjir dan longsor, tetapi juga dilengkapi teknologi Edge Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi aktivitas pembalakan liar (illegal logging) melalui klasifikasi suara. Seluruh perangkat didukung panel surya sehingga dapat beroperasi secara mandiri di lapangan.
Melalui aplikasi yang dikembangkan, pengguna dapat memantau kondisi cuaca, data sensor, pergerakan tanah, hingga status setiap titik pemantauan di kawasan rawan bencana. Aplikasi tersebut juga menyediakan panduan evakuasi, materi edukasi kebencanaan, daftar nomor darurat, serta fitur SOS untuk mempercepat akses masyarakat kepada instansi terkait saat terjadi bencana.
Ilham menambahkan, pengembangan Desa SIGAP diawali dari kebutuhan menghadirkan sistem mitigasi yang tetap dapat diandalkan ketika jaringan komunikasi terputus akibat bencana. Proses pengembangannya berlangsung selama tiga bulan, mulai dari tahap riset, perakitan perangkat keras, hingga penyempurnaan aplikasi.
"Kami ingin menghadirkan solusi yang benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat. Ketika jaringan komunikasi terputus saat bencana, sistem ini diharapkan tetap mampu menyampaikan informasi penting kepada warga," katanya.
Sementara itu, Rektor UNP Kediri, Dr. Zainal Afandi, M.Pd., mengatakan pengembangan Desa SIGAP menjadi salah satu contoh hasil penelitian terapan yang kini didorong kampus melalui tugas akhir mahasiswa berbasis Research and Development (R&D). Menurutnya, pendekatan tersebut diarahkan agar inovasi mahasiswa tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
"Tugas akhir mahasiswa sekarang banyak kami arahkan ke Research and Development agar hasilnya bisa diserahkan kepada mitra kerja dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Zainal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....