ECOTON dan Warga Selamatkan Kali Tebu Melalui Kampung MOZAIK
- 24 Jul 2026 21:50 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di kawasan RT 04/RW 13, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya resmi berakhir
- Keterlibatan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan kawasan yang lebih bersih, sehat, dan bebas dari kebocoran sampah plastik ke Kali Tebu
RRI.CO.ID, Kediri - Kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di kawasan RT 04/RW 13, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya resmi berakhir. Agenda yang digelar selama delapan hari, sejak 16 hingga 23 Juli 2026, diikuti 50 rumah tangga yang berpartisipasi aktif memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga untuk dianalisis komposisi dan karakteristiknya.
AKSA merupakan bagian dari Program Kampung MOZAIK atau Mission for Zero Plastic Leakage yang diinisiasi ECOTON bersama para mitra. Program ini bertujuan mengurangi kebocoran sampah plastik ke sungai, khususnya di kawasan Kali Tebu.
Melalui kegiatan ini, setiap rumah tangga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya. Jenis sampah yang dipilah meliputi sampah organik, plastik, kertas, logam, kaca, tekstil, popok sekali pakai, hingga residu. Seluruh sampah ditimbang dan dicatat setiap hari untuk memperoleh data timbulan sampah rumah tangga serta mengetahui potensi pengurangan sampah dari sumber.
Pada Jumat, 24 Juli 2026, Tonis Afrianto, Waste Prevention Manager ECOTON, mengatakan, AKSA dilakukan untuk mendukung data awal pengelolaan sampah kawasan. "Data yang diperoleh dari AKSA akan menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kampung. Dengan mengetahui komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran," kata Tonis.
Ia menyebutkan, mulai dari pengomposan sampah organik, pemilahan daur ulang, hingga pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai yang memicu timbulan sampah residu. Tonis merinci, dari total 354,58 kilogram sampah yang terkumpul, sampah organik menjadi komponen terbesar dengan persentase 45,5 persen.
Sampah ini umumnya berupa sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan material nabati lainnya. Sementara itu, 34,5 persen merupakan sampah yang masih berpotensi didaur ulang, 13,2 persen berupa popok sekali pakai, dan 6,8 persen merupakan sampah residu.
'Temuan ini menunjukkan lebih dari tiga perempat sampah rumah tangga masih dapat dikelola melalui pemilahan, pengomposan, dan daur ulang. Dengan begitu, volume sampah yang berpotensi bocor ke Kali Tebu dapat ditekan secara signifikan apabila dikelola sejak dari sumber," katanya.
Lurah Simokerto, Arief Insani menyampaikan, bahwa keberadaan AKSA membantu mengetahui jenis sampah yang dihasilkan masyarakat dan apa yang perlu dikurangi. "Semoga tahapan menuju Kampung MOZAIK seperti AKSA pilah sampah ini bisa direplikasi oleh kawasan RT/RW se-Kelurahan Simokerto. Sehingga bisa menciptakan Kali Tebu yang lestari dan asri, layak dinikmati kembali oleh masyarakat, dan bebas dari kebocoran sampah plastik ke sungai," kata Arief.
Mujiatiningsih, Fasilitator Kelurahan Simokerto sekaligus perwakilan Ketua RW 13, menginformasikan aksi pilah sampah di wilayahnya akan terus dilakukan. "Setelah AKSA berakhir bukan berarti kegiatan pilah sampah berakhir. Tapi akan terus berlangsung," kata Mujiatiningsih.
Salah satunya, lanjut Mujiatiningsih, yakni melakukan pengangkutan terpilah dan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos melalui sumur kompos yang ada di area RW 13. "Pilah sampah mempermudah masyarakat mengelola sampah sampai tuntas sejak dari sumber untuk mewujudkan Kali Tebu lestari," katanya.
Selain menghitung timbulan dan komposisi sampah, hasil AKSA juga akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan brand audit, yaitu identifikasi merek-merek kemasan yang paling banyak ditemukan dalam sampah rumah tangga. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi produsen sekaligus memperkuat advokasi kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.
Program Kampung MOZAIK tidak hanya berfokus pada pengumpulan data. Program ini juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi pemilahan sampah, pengomposan, penguatan sistem daur ulang, serta pengembangan solusi guna mencegah sampah masuk ke badan air.
ECOTON menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga Simokerto yang telah berpartisipasi aktif selama delapan hari pelaksanaan AKSA. Keterlibatan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan kawasan yang lebih bersih, sehat, dan bebas dari kebocoran sampah plastik ke Kali Tebu.
Selanjutnya data ini akan disampaikan dalam forum resmi yaitu konsultasi publik. Forum ini akan melibatkan multi stakeholder seperti DLH, Kelurahan, Kader KSH, RT/RW, dan toko setempat untuk tindak lanjut pengelolaan sampah ke depannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....