Batik Parang, Kain Bangsawan Dari Zaman Keraton Mataram

  • 24 Jul 2026 21:52 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- Tahukah anda ternyata batik motif parang sudah ada sejak zaman Keraton Mataram Kartasura ? Seperti dikutip dari Good News From Indonesia, batik ini juga menjadi simbol strata sosial di kalangan bangsawan yang hanya dipakai raj, penguasa, dan ksatria. Batik parang adalah motif batik tertua yang menunjukkan eksistensi warisan budaya kental sampai ke generasi sekarang.

Susunan motif S yang jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam. Sementara garis diagonal lurus melambangkan penghormatan dan cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai. Dinamika dalam pola parang ini juga disebut sebagai bentuk ketangkasan, kewaspadaan, dan kontituinitas antara pekerja dengan pekerja lain.

Kata parang berasal dari Bahasa Jawa yaitu pereng yang disimbolkan dengan garis lengkug menyerupai ombak di laut. Sebagai simbol kewibawaan, batik parang adalah salah satu batik paling ikonik. Dilansir dari laman resmi Museum Sonobudoyo, motif batik ini pertama kali diciptakan oleh Panembahan Senopati, saat duduk mengamati gerak ombak laut selatan yang menerpa karang.

Batik parang yang dikenal sebagai batik keraton ini mempunyai pola tradisional. Motif ini juga memiliki beberapa jenis seperti parang barong, parang rusak, parang curigo, parang kusumo, dan lainnya. Tiap corak memiliki bentuk dan makna yang berbeda, serta penggunaannya yang menunjukkan status pemakainya dan di mana motif tersebut digunakan.

Proses pembuatan batik Parang sama seperti batik lain. Melibatkan beberapa tahap yang memerlukan keterampilan dan ketelitian tinggi, yang dimulai dengan proses menyanting, di mana malam (lilin panas) digunakan untuk menutupi bagian-bagian tertentu dari kain. Perajin menggunakan alat khusus untuk menciptakan pola Batik Parang dengan presisi tinggi.

Setelah proses menyanting selesai, kain akan direndam dalam larutan pewarna. Pewarna yang digunakan biasanya berasal dari bahan alami, yang memberikan warna yang tahan lama dan ramah lingkungan. Proses pewarnaan harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan bahwa warna yang dihasilkan sesuai dengan desain yang diinginkan.

Tahap berikutnya adalah penghilangan lilin. Setelah kain diwarnai dan kering, lilin yang menutupi pola akan dihilangkan oleh pengrajin dengan menggunakan panas. Proses ini memungkinkan motif Batik Parang terlihat atau nampak dengan jelas, menampilkan desain yang telah dibuat sebelumnya. Memasuki tahap finishing, batik parang akan dicuci dan disetrika untuk mendapatkan hasil akhir yang sempurna.

Dalam tata aturan keraton Kasultanan Yogjakarta, penggunaan batik Parang juga punya pakem yang masih dijunjung tinggi sampai hari ini. Sultan Hamengku Buwono I sebagai raja menetapkan parang rusak sebagai pola larangan.

Yang boleh memakainya, terkhusus parang rusak barong, adalah putra sultan dengan sebutan kanjeng panembaha dan putra sulung sultan dengan gelar kanjeng gusti pangeran adipati anom. Mereka juga diperbolehkan menggunakan motif parang rusak gendreh dan klithik.

Sementara Permaisuri sultan juga mendapat kelonggaran untuk mengenakan parang rusak barong, Selir, diperkenankan memakai motif parang rusak gendreh, dan menantu sultan (istri putra sultan) boleh memakai kain yang sama dengan suaminya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....