RMI PBNU Perluas Jaringan Pelatih, Perkuat Pencegahan Kekerasan di Pesantren

  • 16 Jul 2026 13:47 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Satuan Penanggulangan Kekerasan di Pesantren PBNU menggelar Training of Trainers (ToT) Pelatihan Musyrif-Musyrifah

RRI.CO.ID, Kediri – Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Satuan Penanggulangan Kekerasan di Pesantren PBNU menggelar Training of Trainers (ToT) Pelatihan Musyrif-Musyrifah di Hotel Cavinton Yogyakarta, Kamis, 16 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas jumlah fasilitator dalam penguatan sistem pengasuhan serta pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren.

Membuka kegiatan tersebut, KH Marzuki Wahid menegaskan bahwa ToT ini dirancang untuk mencetak para pelatih baru yang nantinya dapat mereplikasi pelatihan serupa di berbagai daerah. Menurut KH Marzuki, selama ini jumlah fasilitator yang tersedia masih terbatas, sementara permintaan pelatihan dari pesantren terus meningkat.

Kondisi tersebut membuat penyelenggara kerap kewalahan dalam memenuhi undangan pelatihan dari berbagai wilayah. Ia menyebut, meningkatnya kesadaran pesantren untuk memperkuat sistem pengasuhan menjadi sinyal positif yang harus direspons dengan memperbanyak trainer agar jangkauan pelatihan semakin luas.

"Para peserta ToT, dipersiapkan menjadi fasilitator yang mampu melatih musyrif, musyrifah, pengasuh, hingga tenaga pendidik di pesantren masing-masing. Dengan begitu, upaya pencegahan kekerasan tidak hanya bergantung pada fasilitator nasional," kata KH Marzuki.

Lebih dari itu, imbuhnya, penguatan kapasitas ini dinilai penting mengingat masih adanya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren. Karena itu, dibutuhkan sistem perlindungan santri yang semakin kuat dan berkelanjutan.

KH Marzuki menegaskan, pesantren harus memiliki mekanisme penanganan yang tepat jika terjadi kasus kekerasan, sesuai dengan nilai-nilai etika pesantren dan prinsip yang dijunjung Nahdlatul Ulama. Ia berharap, para peserta pelatihan dapat menjadi agen perubahan yang mendorong terciptanya budaya pengasuhan positif di pesantren.

Selain itu, mereka juga diharapkan mampu mengembangkan pelatihan lanjutan di daerah masing-masing guna memperkuat perlindungan santri secara menyeluruh. Melalui kegiatan ini, RMI PBNU dan SAKA PBNU menegaskan komitmennya untuk terus memperluas gerakan pencegahan kekerasan di pesantren, sekaligus membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan berdaya bagi seluruh santri.

Terpisah, Amelia, seorang warga di Kabupaten Kediri mengemukakan, sangat miris bila mendengar masih adanya kasus kekerasan yang terjadi di Tanah Air. "Kami tentu berharap, dengan pelatihan yang diberikan seperti Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Satuan Penanggulangan Kekerasan di Pesantren PBNU dapat meminimalkan munculnya kasus serupa," kata Amelia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....