Regenerasi Kepemimpinan Tebuireng Masuki Babak Baru

  • 29 Jun 2026 23:58 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Pesantren Tebuireng memasuki babak baru dalam proses regenerasi kepemimpinan setelah melakukan penyegaran di 12 unit lembaga pendidikan dan pondok pesantren. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola organisasi sekaligus menyiapkan kader-kader pemimpin yang mampu menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan menjawab tantangan pengelolaan pesantren di masa mendatang.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz atau Gus Kikin, mengatakan proses regenerasi telah dirancang melalui tahapan yang panjang dengan sistem yang lebih terukur. Menurutnya, mekanisme pemilihan dan penataan kepemimpinan kini mengedepankan transparansi, akuntabilitas, serta pertimbangan yang didasarkan pada kebutuhan lembaga. "

Proses regenerasi ini telah kami siapkan sejak beberapa waktu lalu. Seluruh tahapan dijalankan dengan sistem yang lebih tertib, terbuka, dan mengacu pada hasil evaluasi sehingga kepemimpinan yang terbentuk benar-benar sesuai dengan kebutuhan lembaga," ujarnya, Senin, 29 Juni 2026.

Gus Kikin menilai regenerasi bukan sekadar pergantian pejabat di lingkungan pesantren, melainkan bagian dari proses pembinaan yang harus terus berlangsung agar organisasi tetap berkembang. Menurutnya, kesinambungan kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas pendidikan di Tebuireng.

"Pembinaan tidak boleh berhenti. Regenerasi harus dipahami sebagai proses menyiapkan penerus yang mampu melanjutkan amanah sekaligus membawa lembaga berkembang lebih baik," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan memimpin dan mengelola organisasi. Nilai tersebut, kata Gus Kikin, telah diwariskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dan perlu terus dijaga.

"Ilmu agama yang dipelajari di pesantren harus memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itu, para kader juga perlu dibekali kemampuan berorganisasi agar mampu meneruskan perjuangan para ulama melalui dakwah dan pengabdian," jelasnya.

Menurut Gus Kikin, penguatan koordinasi antarunit dan pengembangan kelembagaan menjadi agenda penting dalam menghadapi tantangan pendidikan ke depan. Tebuireng, lanjutnya, harus terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi fondasi pesantren.

"Kami ingin seluruh unit bergerak dengan arah yang sama. Tebuireng harus terus berkembang sebagai pusat keilmuan yang mampu berinovasi, tetapi tetap berpijak pada nilai dan tradisi yang telah diwariskan para pendiri pesantren," ucapnya.

Melalui regenerasi kepemimpinan tersebut, Tebuireng diharapkan semakin memperkuat sistem organisasi dan meningkatkan kualitas pendidikan, sekaligus menjaga estafet kepemimpinan agar tetap profesional, adaptif, dan selaras dengan visi besar pengembangan pesantren di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....