Halaqah Pengasuh Pesantren Hasilkan Rekomendasi Cegah Kekerasan Santri

  • 22 Jun 2026 18:01 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Halaqah Pengasuh Pesantren yang diselenggarakan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Lakpesdam PBNU di Pondok Pesantren Al Falah II, Kediri, menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis

RRI.CO.ID, Kediri - Halaqah Pengasuh Pesantren yang diselenggarakan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Lakpesdam PBNU di Pondok Pesantren Al Falah II, Kediri, menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis.

Pada agenda, Senin, 22 Juni 2026, upaya itu diwujudkan untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pesantren.

Rekomendasi tersebut lahir dari diskusi yang melibatkan pengasuh pesantren, akademisi, pegiat perlindungan anak, pengurus RMI, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Forum ini menjadi wadah untuk memetakan tantangan sekaligus merumuskan langkah konkret dalam menciptakan pesantren yang aman dan ramah anak.

Peserta menilai bahwa persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan tidak cukup diselesaikan hanya melalui aturan tertulis. Yang lebih penting adalah membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan dan meningkatkan kapasitas para pengasuh serta santri.

Salah satu rekomendasi utama yang disepakati adalah penguatan jejaring antar-pesantren agar penanganan kasus tidak berjalan sendiri-sendiri. Melalui jejaring tersebut, pesantren diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, sumber daya, dan dukungan dalam menangani persoalan yang muncul.

Peserta dari Malang, M Danial menilai, pesantren membutuhkan dukungan profesional yang lebih kuat dalam menangani kasus kekerasan.

"Penanganan di pesantren itu membutuhkan spesialis, bukan hanya generalis. Karena itu kami berharap RMI dapat berkolaborasi dengan kepolisian dan pemerintah dalam memperkuat sistem advokasi dan pendampingan bagi pesantren," ujar M Danial.

Forum ini juga mendorong pembentukan layanan khusus perlindungan anak yang mengedepankan pendekatan konseling dan pendampingan dibandingkan pendekatan yang bersifat represif.

Gagasan lain yang mendapat perhatian luas adalah pengembangan program konselor sebaya. Program ini dinilai mampu menjadi ruang aman bagi santri untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih serius.

"Konselor sebaya bisa menjadi solusi karena banyak anak lebih nyaman bercerita kepada temannya. Karena itu perlu ada pelatihan agar santri yang menjadi konselor sebaya memiliki kemampuan mendengar dan mendampingi secara tepat," kata Ning Jihan dari Pesantren Al-Ma'ruf Kediri.

Selain konselor sebaya, Jihan menyebutkan, peserta juga mengusulkan tersedianya ruang konsultasi psikologis bagi santri. Menurut mereka, pencegahan harus menjadi fokus utama sehingga berbagai persoalan dapat diselesaikan sebelum berubah menjadi tindakan kekerasan.

Rekomendasi lainnya, imbuhnya, adalah memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, khususnya yang memiliki program studi psikologi, kesehatan, dan konseling. Kerja sama tersebut diharapkan mampu menjawab keterbatasan tenaga profesional yang selama ini masih menjadi kendala di banyak pesantren.

Di bidang tata kelola, peserta mengusulkan pendataan pesantren secara lebih sistematis hingga ke tingkat pesantren kecil agar seluruh lembaga memperoleh akses yang sama terhadap program pendampingan dan penguatan kapasitas.

Forum juga menekankan, pentingnya membangun narasi positif tentang pesantren. Berbagai kasus yang terjadi harus ditangani secara terbuka dan berpihak kepada korban, namun publik juga perlu mengetahui berbagai upaya pembenahan yang sedang dilakukan oleh pesantren.

Pada akhir halaqah, peserta menyepakati komitmen bersama untuk memperkuat jejaring antar-pesantren, meningkatkan kapasitas pengasuh dan santri dalam pencegahan kekerasan, serta membangun sistem perlindungan anak yang lebih profesional dan berkelanjutan.

"Pesantren merupakan garda terakhir untuk isu-isu seperti ini. Karena itu kita harus bersatu untuk berbenah dan berkolaborasi mewujudkan pesantren yang aman dan bebas dari kekerasan," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....